Infinite goes to Jalur Jatiasih
Hari Minggu kemarin berkesempatan tuk mengajak Infinite jalan-jalan ke Jatiasih, Jalur Jatiasih tepatnya. Bersama Rodex (Rombongan Depok) perjalanan dimulai dari Detos (Depok Town Square), agak telat karena ada salah satu anggota yang kesiangan. Ditambah lagi kepadatan jalan Juanda di Minggu pagi akibat pasar kaget, dan sebagai puncak salah seorang teman kecelakaan saat menuruni tangga jembatan penyeberangan diatas tol Jagorawi. Kecelakaannya cukup parah sehingga perlu segera dievakuasi. Dan aku pun ikut mengevakuasi, walau hanya sampai ketemu taksi yang membawa pulang teman tersebut. Berita terbaru dari dia : engselnya bergeser dan sudah diurut (dikembalikan ke tempat semula). Semoga lekas sembuh Zam!
Istirahat sebentar, disambut dengan turunan yang mak-nyoss. Begitu masuk ke mulut turunan sudah disambut oleh pohon yang melintang, harus waspada agar kepala tak tersangkut. Masih was was dengan pohon melintang tiba-tiba didepan sudah menunggu potongan trek yang lebih curam. Walau pendek tapi cukup membuat jantung deg-degan. Kali ini ketangguan fork yang diuji. Tentu selain nyali dan teknik pengendaranya. Alhamdulillah, RST Omega T7-ku bisa lolos. Jleg, kira-kira begitu rasanya. Sepertinya fork dengan travel lebih panjang dari 100 akan lebih nyaman melewati rintangan ini. Melewati tanjakan-tanjakan kecil Infinite cukup lincah. Kelemahannya adalah ban depan sering terangkat jika tanjakan agak terjal, tuk menyiasati bisa dengan menggeser posisi badan lebih kedepan. Tapi jangan terlalu kedepan karena ban belakang bisa kehilangan traksi. Setelah istirahat perjalanan dilanjutkan menuju markas klub JJ.
Setelah berkenalan dan berhahahihi, rombongan kembali meluncur menuju ke ujian berikutnya. Ujian pertama adalah alang-alang disekitar jalur yang tinggi dan berseliweran bebas didepan mata. Untung pakai kacamata. Jadi pastikan selalu pakai kacamata jika bermain sepeda. Turunan dan tanjakan juga lebih variatif, kadang bisa dinaiki kadang juga harus dituntun. Karena teknik yang kurang memadai seringkali Infinite kehilangan traksi di tanjakan, padahal aku yakin aku bisa melahapnya. Gemes dehhh. Dan sebagai turunan pamungkas sebut saja-menurut om Trio- Turunan Koboi. Ya, memang benar sesuai namanya. Turunannya curam dan sangat menantang. Ragu? Lebih baik sepeda dituntun aja. Dan menuntun sepeda pun ternyata bukan hal yang mudah, bisa-bisa sepeda dan orang berjalan sendiri-sendiri, alias nyungsep
. Tentu saja, Infinite segera beraksi setelah melihat contoh dari om Trio. Seperti biasa, geser pantat ke belakang, tangan di stang dengan kewaspadaan tinggi di rem, kaki kokoh menapak di pedal. Wusssss, … setelah dirasa mantap, rem dilepas, ditambah beberapa kayuhan sehingga Infinite bisa meluncur kencang. Puasss! Dari keseluruhan rombongan hanya satu yang tidak lulus ujian Turunan Koboi karena menuntun sepeda, hehehe.
Sampai dirumah disambut Mama dengan agar-agar yang suegarrrrr dan lumpia yang menggoda selera. “Makasih ya Ma”, … mmuach!
Terima kasih kepada om Trio sebagai pemandu dan teman-teman Rodex yang lucu, ceria, baik hati dan tidak sombong
.
—
Foto : diambil dari blognya Gilang (”gpp ya Lang aku pajang disini?”) dan temannya Armi (maaf tak tahu namanya)
Read Original Post at : http://dryae.blogspot.com/2007/03/infinite-goes-to-jalur-jatiasih.html
Related posts:
Wikusama (noun) : nick community alumni [1] widyaloka kusuma samekta makarya [2] tempat mencari ilmu yang bersinar, harum, mewangi, yang mendidik dan menyiapkan sumber daya manusia agar siap terjun ke dunia kerja [3] ikatan alumni smk telekomunikasi sandhy putra malang [4] tidak mengenal batas generasi dan umur; mailing-list [1] wikusama@wikusama.com
Latest Comments