Kembali ke Jaman Batu
Apa sih istimewanya sebuah batu?
Banyak pendapat dilontarkan terhadap fenomena ini. Kebanyakan mengatakan bahwa inilah potret masyarakat kita yang masih percaya terhadap mitos-mitos dan tahayul. Pola kepercayaan seperti itu pula yang akhirnya berpengaruh terhadap segala sendi kehidupan. Lihat saja, di dunia perfileman kita akhir-akhir ini pun seakan tak mau kalah dengan Ponari. Film-film dalam negeri pun banyak mengambil tema-tema mistik.
Daya tarik Ponari rupanya tak sampai disitu. Kecenderungan mengkultuskan sebuah batu juga semakin menjadi-jadi. Tak lama berselang sejak batu Ponari bikin heboh, masih di Jombang juga seorang bocah perempuan – Dewi Setiawati mengklaim memiliki batu yang mirip dengan milik Ponari. Di Madura juga tak mau kalah, seorang bocah lelaki – Irfan Maulana (hampir mirip dengan namaku hehehe…) – juga menemukan batu seperti milik Ponari. Bisa jadi makin hari akan muncul penemu batu-batu lain yang mengklaim mirip seperti batu milik Ponari.
Batu Ponari memang fenomenal. Bayangkan, gara-gara batu bisa merubah kehidupan Ponari. Perubahan yang nyata adalah banyaknya pihak yang pro dan kontra menyikapinya. Bagi yang kontra, mereka tak setuju adanya unsur ekploitasi terhadap anak dibawah umur hingga masalah akidah. Tetapi bagi yang pro, saya melihat ada unsur pemanfaatan secara ekonomis terhadap fenomena tersebut. Itulah sebabnya semakin hari, semakin banyak ‘peniru Ponari’ yang berusaha meraup keuntungan ditengah krisis global saat ini. Gimana nggak banyak yang tergiur meniru, lha wong sehari saja kabarnya omzet Ponari bisa mencapai 50 jutaan rupiah. Angka yang fantastis!
Namun, apa benar batu Ponari bisa menyembuhkan penyakit?
Menurut cerita, Ponari mendapatkan batu pada saat dia sedang bermain ditengah hujan dan tersambar petir. Disaat itulah batu tersebut terlempar ke kepalanya. Konon manusia sendiri dapat menyimpan energi listrik. Mungkin saja saat tersambar petir itulah, tubuh Ponari menyerap energi listrik yang menyambarnya. Ponari berubah menjadi semacam kapasitor. Nah, energi listrik itulah yang selama ini ia salurkan kepada orang-orang yang datang kerumahnya dengan mencelupkan tangannya yang menggenggam batu. Saat tangan Ponari mencelupkan tangannya yang bermuatan listrik, energi tersebut berpindah ke air tersebut. Dan saat air diminum oleh si pasien, pasien merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang berbeda inilah yang diyakini sebagai kesembuhan si pasien. Jadi, bisa jadi bukan batu yang membuat pasien sembuh, namun energi listrik dari tubuh Ponari-lah penyebabnya.
Mengapa demikian? Kita tahu, dalam dunia kedokteran dewasa ini, energi listrik saat ini sudah menjadi lazim digunakan untuk terapi beberapa penyakit. Disamping itu, seandainya memang batu merupakan faktor penyembuhnya, mengapa tak sebaiknya batu tersebut direndam saja dalam air kolam dan air tersebut bisa langsung diambilin oleh orang-orang yang meminta kesembuhan. Dengan demikian, Ponari pun bisa beraktifitas seperti biasa, tak harus mencelupkan tangannya yang berisi batu pada air dari orang-orang yang datang. Dari sini sebenarnya bisa disimpulkan, bukan batu media penyembuhnya, namun energi listrik dari Ponari-lah bisa jadi penyebabnya.
Terus gimana jika energi listrik Ponari habis? Ya, seperti aki sajalah, kalo lama digunakan dia akan redup dan energinya tak bisa berfungsi dengan baik. Jadi aki tersebut perlu di charge ulang khan? Jadi supaya energi listrik di tubuh Ponari bisa berguna lagi, ya perlu di charge ulang. Caranya? Tunggu saja saat hujan tiba dan petir menyambar, itulah saat yang tepat bagi Ponari untuk nge-charge ulang energi listrik dalam tubuhnya.
Namun karena masih saja banyak saja yang percaya sama batu, kayaknya sekarang kita sedang kembali ke jaman batu.
Read original post at http://feedproxy.google.com/~r/mazirwan/~3/wa55d9E5W4c/kembali-ke-jaman-batu.html
Related posts:
Wikusama (noun) : nick community alumni [1] widyaloka kusuma samekta makarya [2] tempat mencari ilmu yang bersinar, harum, mewangi, yang mendidik dan menyiapkan sumber daya manusia agar siap terjun ke dunia kerja [3] ikatan alumni smk telekomunikasi sandhy putra malang [4] tidak mengenal batas generasi dan umur; mailing-list [1] wikusama@wikusama.com
Latest Comments