Archive

Archive for November 3rd, 2008

rectoverso

November 3rd, 2008 Administrator No comments

pada awalnya seh sudah tertarik saat pertama keluar ni buku, tapi karena masih banyak stock buku di kamar, ketertarikan itu aku tunda dulu. tapi ternyata penundaan itu ndak bisa begitu lama, anak-anak pada rame di milist ngobrolin buku ini. terpaksa sabtu malam kemarin pukul 20.35 ke Toga Mas Petra di Dharmawangsa (padahal lagi nonton ISL). dapetlah bukunya itu, tapi sayangnya gak ada CDnya sekalian disana. setelah SMS tetangga kosan agak jauh dapetlah info kalo di Aquarius harusnya ada (ya iyalah, Aquarius kan toko lagu?).

tapi sayangnya saya ndak jodo kali ini, begitu nyampai depan Aquarius yang di polisi istimewa itu, lha kok tepat saat mbak’e nutup pintu. :( ( ya sudah, berarti emang belum diijinin beli CD ori, Tuhan sepertinya tahu duit saya ndak seberapa. :) ) so, sampai di warkop ujung gang email anak-anak buat share album lengkapnya. download’lah saya dari indowebster ketika dah di kosan setelah ujan berenti. untung pulsa AXIS masih ada beberapa ratus ribu, ndak sampai 15 menit (meskipun pakai acara pause and resume buat njaga speed koneksi) selesailah itu lagi di unduh ke kompie.

ternyata apa yang di ucap tetangga kosan yang agak jauh tadi yang ngasih tahu saya dimana dapetin CD itu benar, “sendiri belum cukup, karena dengan berdua bisa saling melengkaai”. tapi ternyata akhirnya kepikiran di belakangan, dia tadi bicara itu soal buku ma CD apa soal pasangan hdup ya? *) kabur menghindari sambitan sendal

jadi kesannya gimana dev ma tuh buku?

kesannya? ndak terlalu istimewa, saya masih suka Rico de Coro di Filosofi Kopi. tapi bukaan prosanya cukup mengena di buku ini, Curhat Buat Sahabat bakal terasa dekat bagi orang-orang yang memiliki sahabat dekat.

o iya, saya belum selesai baca, masih 30% lagi kayaknya. D

*) tata bahasa saya kembali rusak gara gara Pidi Baiq! arggghhhh………

**) credit gambar ke www.dee-rectoverso.com

Read original post at http://studiosewelas.net/2008/11/03/rectoverso/

Categories: Alumnus Blog Tags:

Lezaat!

November 3rd, 2008 Administrator No comments

Titah juragan pagi ini, “mau kue kayak di PI mol kemalen ma!” maksudnya kue soes papa beard, hihihii, lha emaknya nggak iso bikin yang itu, belom ngikut kursusnya :D , ini aja deh kue soes cap Paris Brest, enaak kaaaannn…
Anget2 belom diisi vla, kulitnya udah amblas 3, hahahahaha…

      

Read original post at http://chefwannabe.wordpress.com/2008/11/03/lezaat/

Categories: Alumnus Blog Tags:

Cake Obras

November 3rd, 2008 Administrator No comments

Yang ngasih nama bukan aku lho, yang ngasih nama yang mesen tuh, wakakakka, dari sejak kue dianter nanyain kok kuenya belom terpampang di blog, katanya kasian ama aku udah capek2 ngobras kue semaleman, kekeekek…. Emang rada2 nih pelanggan kue yang ini, xixixix, ya sama juga kayak aku sih, hahahaha…. 
Awalnya minta hiasan alat2 berat, ya buldozer, [...]

Read original post at http://chefwannabe.wordpress.com/2008/11/03/cake-obras/

Categories: Alumnus Blog Tags:

#117: Panggil Aku, Nara..!

November 3rd, 2008 Administrator No comments

Ah, Bapak. Bapak tak perlu mengharu-biru meminta ma’af padaku. Aku tahu, Bapak sedang tidak terlalu ‘mood’ untuk menuangkan kata-kata tentangku dalam blog Mbakyu Pambayun. Tidak apa-apa, Bapak. Aku tahu, di benak Bapak keinginan itu tetaplah menyala.

Tanpa Bapak tuangkan rasa dan cinta Bapak kepadaku dalam tulisan, aku sudah tahu Bapak sangat mencintaiku. Aku telah rasakan cinta dan kehangatan Bapak di setiap Bapak datang dan akan pergi kerja selalu menciumku. Dan di kala Bapak mencium pipiku, kudengarkan desahan penuh getar lantunan Sholawat Nabi Sang Akhir Jaman selalu Bapak lantunkan untukku.

Aku tak bisa menghitung pasti. Tapi Bapak bisa menciumku setiap saat ketika Bapak mendekat padaku. Jika Bapak menciumku 5x di hari kerja, dan 10x di hari libur, artinya Bapak telah mengirimkan barokah Sholawat 200x kepadaku dalam satu bulan. Jika umurku sekarang 2 bulan setengah, berarti Bapak telah bersholawat 500x demi berkahnya untukku.

Terima kasih, Bapak. Aku tahu, seperti itu pula yang Bapak lakukan buat Mbakyuku Pambayun ketika ia masih kecil. Jadi Bapak tidak perlu minta ma’af padaku.

Ah, Bapak. Walaupun Bapak belum menulis tentangku, tapi aku tahu Bapak sangat mensyukuri akanku. Bukankah Bapak telah bikin acara syukuran aqiqah untukku dengan mengundang teman-teman Bapak? Bukankah parkiran depan rumah itu penuh sesak dengan kendaraan teman-teman Bapak yang ingin menjengukku? Aku tahu, Bapak potong kambing 2 buah demi wujud syukur Bapak ke Sang Pangeran akan kehadiranku. Wajah Bapak begitu sumringah waktu itu, sebagai pertanda -meminjam istilah Bapak- “Sang Pejantan Tangguh” telah hadir dalam kehidupan Bapak.

Bapak tak perlu bersedih. Kasih-sayang Bapak bisa kurasakan. Bapak memberiku nama yang begitu dalam sehingga seorang teman Bapak yang Hindu begitu sangat respect pada keputusan Bapak; cerminan sebagai jiwa yang nasionalis-religius tanpa tercerabut akar-budaya bangsanya.

Aku mengerti kesibukan Bapak akhir-akhir ini. Bekerja, bersosial-masyarakat di lingkungan kerja dan di lingkungan militer rumah kita yang serba keras itu. Aku tahu sebagai wujud syukur Bapak atasku, Bapak mengadakan “nongkrong bulanan” dengan mengumpulkan para militer itu di depan rumah kita, di depan danau itu. Agar rumah kita bertambah barokahnya.

Ah, Bapak. Tak perlu Bapak minta ma’af padaku. Aku yakin, suatu saat Bapak akan menulis banyak tentangku. Sangat banyak! Aku sangat memahami “bank idea” dalam otak Bapak yang begitu menggelora dan selalu menyala-nyala. Aku paham itu.

Titip salam ke teman-teman Bapak; panggil aku, Nara…!!! dalam perkenalan pertama ini. I love U, Bapak.

Wisma Bakrie Lt-4, 22 October 2008, 19:14

(c) aGusJohn

Read original post at http://pambayuns-father.blogspot.com/2008/11/117-panggil-aku-nara.html

Categories: Alumnus Blog Tags:

#116: Ma’afkan Bapak, Nak !

November 3rd, 2008 Administrator No comments

Ah, aku tak bermaksud pilih-kasih terhadapmu. Ma’afkan Bapakmu ini, Nak. Umurmu sudah 2 bulan setengah, tapi tak satupun tulisan tentangmu dapat kutuangkan dalam blog Mbakyumu.

Beda dengan jaman Mbakyumu dulu. Belum lahir saja sudah Bapak tulis banyak-banyak. Apalagi ketika Mbakyumu sudah lahir. Begitu beruntun Bapakmu ini menuang-curahkan step by step perkembangannya. Hingga fotonya sampai ratusan terupload di blog.

Ma’afkan Bapakmu, Nak! Tidak mampukah aku? Rasanya klise sekali. Bapakmu ini masih mampu, Nak!

Tidak sempatkah aku? Ah, sok sibuk seperti anggota dewan saja! Bapakmu bukanlah orang seperti itu, Nak.

Sampai sekarangpun Bapak masih tertegun; apa yang bisa Bapak tulis tentangmu? Bukankah Sang Pangeran Pencipta Alam telah memberikan kepada Bapak sebocah “pejantan tangguh”? Bukankah Bapakmu ini mengharap-cemas akan keinginan seorang anak laki-laki hadir di tengah keluarga sederhana kita di Lembah Ciangsana sana?

Kurang bersyukurkah, Bapakmu ini, Nak? Ah, tidak mungkin. Begitu sombong rasanya kalau Bapak tanpa syukur atas kehadiranmu yang sehat wal afiat itu. Rasanya angkuh jika Bapak tidak bersyukur akan kehebatanmu dalam kemampuan berinteraksi saat ini. Rasanya terlalu jumawa bila Bapakmu ini tidak menikmati rejeki-Nya atas semua anugerah yang terlimpahkan kepadamu. Ah, bukan itu, Nak.

Seperti halnya Mbakyumu, kau adalah “cahaya” Sang Pangeran, Nak. Semoga Bapak dapat secepatnya menulis-bumikan dirimu di lembaran blog Mbakyumu.

Sekali lagi, ma’afkan Bapak, Nak…

Wisma Bakrie, Lt-4, October 22nd, 2008

(c) aGusJohn

Read original post at http://pambayuns-father.blogspot.com/2008/11/116-maafkan-bapak-nak.html

Categories: Alumnus Blog Tags:

#115: Diaudit Kok Takut??

November 3rd, 2008 Administrator No comments

“Diaudit kok takut??”, kata seorang teman.

Kalau SOP beres, Bisnis Process beres, dokumentasi beres, kenapa orang mesti takut diaudit sehingga menyebabkan paranoid dan keluar pernyataan2 yang tidak mencerminkan jabatan yang disandang??

Asalkan, semua syarat, work-flow kita lakukan dengan benar, dengan hati bersih, kita tak perlu takut diaudit. Karena audit tidak akan keluar dari SOP, aturan yang kita buat sendiri. Audit bukanlah hantu, tapi pemberi solusi jika ada kekurangan/kelemahan.

Kalau kita bukan penjahat. Kita bukan maling, dan kita bukan penipu, harusnya kooperatif dengan tim audit. Kalau ada kelemahan, kekurangan itu menjadi PR bersama untuk diperbaiki. Kita sama-sama cari solusi demi kemajuan perusahaan. Kalau hanya bisa saling menyalahkan, mending jadi anggota Dewan saja.

So, kenapa harus takut diaudit??

October 22nd, 2008

(c) aGus John

Read original post at http://pambayuns-father.blogspot.com/2008/11/115-diaudit-kok-takut.html

Categories: Alumnus Blog Tags: