Nyawa 30.000 rupiah
Miris, marah, sedih dan masih banyak perasaan lain yang berkecamuk setelah melihat kejadian yang merenggut 21 nyawa di Pasuruan. Dengan dalih pembagian zakat, masa dengan predikat “miskin”, mayoritas ibu-ibu berebut posisi agar mudah meraih rejeki nomplok sebesar 30.000 rupiah !.
Di lain sisi Pak Haji Syaikhon dan keluarga kayanya mengumbar senyum berharap berkah dan pahala dengan membagi lembaran uang.
Belum tahu apa pemicunya, masa berebut posisi, mendorong, mendesak bahkan mungkin berlanjut dengan tendangan, injakan yang menyebabkan beberapa orang dengan pangkat yang sama yaitu “miskin” terhempas ke tanah. Susah bernafas, kesakitan terinjak-injak dan akhirnya meregang nyawa ditempat. Nyawa melayang tanpa bersama impiannya mendapatkan 30.000 rupiah.
Jeritan, tangisan sia-sia bergema dihiasi kemarahan masa, marah dengan siapa ? Siapa yang salah ???
Mungkin Pak Haji dan keluarganya salah, karena tanpa fikir panjang mengundang masa datang ke rumahnya untuk mendapat bagian hartanya. Dengan cara demonstratif membagikan dan membeberkan kemampuannya untuk beramal tanpa berfikir bahwa dengan cara itu sama saja dengan melecehkan masyarakat miskin. Bukankah sebaiknya beramal itu dihantarkan ke rumah, ke tempat dimana orang itu tinggal atau beraktifitas dengan cara santun agar sama-sama merasakan hakikat berbagi ? Bukankah ada istilah jangan sampai tangan kiri tahu pada saat tangan kanan memberi.
Mungkin Pak Haji tidak sepenuhnya salah karena niatnya memang berbagi karena tidak percaya dengan instansi-instansi pengurus ZIS. Mungkin juga Pak Haji ingin menebar kebaikan agar orang kaya lainnya terketuk hatinya agar mau menyumbangkan sebagian hartanya.
Mungkin kesalahan masyarakat miskin, penuh hawa nafsu tanpa berfikir akibat ketidaksabarannya. Dalam desakan dan himpitan tega mendorong, menginjak-injak teman senasib seperjuangan. Tapi inilah cermin masyarakat kita, kenyataan bahwa secara alami adrenalin akan terpacu naik pada saat kita masuk dalam himpunan masa, apalagi dengan beban kemiskian dan kebutuhan hidup.
Pemerintah, mau atau tidak juga pasti akan disalahkan. Kenapa sampai ada ribuan fakir miskin berebut dan meregang nyawa hanya karena ingin membawa pulang 30.000 rupiah ? Tentunya kalau hal ini dikaitkan pemerintah akan menyita tenaga dan waktu untuk menjelaskan di sini…..sudahlah.
Sedih…ternyata harga nyawa manusia lebih murah daripada kambing, seharga anakan ikan hias, lebih murah dari paket A Mc.Donald, 30.000 rupiah !
Marah, 21 nyawa hilang begitu saja……sia-sia…….
Semoga semua bisa belajar dari kejadian ini, pelajaran penting tentang menghargai hidup.
Irpus, antara Jakarta – Bekasi.
Foto diambil dari : http://alwannazifa.blogspot.com
Read original post at http://blog.irpus.net/?p=35









Wikusama (noun) : nick community alumni [1] widyaloka kusuma samekta makarya [2] tempat mencari ilmu yang bersinar, harum, mewangi, yang mendidik dan menyiapkan sumber daya manusia agar siap terjun ke dunia kerja [3] ikatan alumni smk telekomunikasi sandhy putra malang [4] tidak mengenal batas generasi dan umur; mailing-list [1] wikusama@wikusama.com
Latest Comments