Ramadhan di kampung halaman vs di Jakarta
Ramadhan sebentar lagi akan datang menyapa kita semua kaum muslim di jagat ini. Apa yang sudah kita siapkan untuk menyambutnya?
Dulu saat saya masih di kampung halaman di Malang sana, menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, banyak warga yang mengadakan syukuran, mengadakan kenduri kecil-kecilan untuk menyambutnya. Ini kami namakan dengan punggahan poso. Saya yakin, sampeyan-sampeyan yang asli warga Jawa Timur, apalagi Malang akan mengenal kebiasaan ini. Menyambut Ramadhan laksana menyambut datangnya tamu agung yang akan datang setahun sekali. Dia akan dihormati bak seorang raja. Warga akan bersuka cita menyambutnya.
Selanjutnya, kami akan mengunjungi makam para anggota keluarga yang telah berpulang. Ini kami sebut dengan nyekar. Disitu kami akan membersihkan makam tersebut, menaburinya dengan bunga dan tak lupa kami panjatkan do’a kepada ahli kubur semoga arwahnya mendapatkan kelapangan oleh Allah SWT.
Tak lupa, sehari sebelum puasa, orang-orang akan melakukan mandi keramas. Dulu di dekat masjid kampung kami mengalir sebuah sungai. Air sungai itu dialirkan menuju halaman masjid dan dijadikan kolam untuk tempat berwudhu. Disamping masjid, air sungai itu dialirkan lagi menjadi semacam tempat mandi. Disitulah banyak orang-orang yang akan mandi keramas sehari sebelum esoknya berpuasa.
Suasana agamis begitu kental selama bulan suci di kampung halamanku. Tiada hari yang tak terlewatkan untuk menjalankan taraweh dan sholat subuh bersama. Suasana tadarus setiap malam di masjid, walaupun kadang karena ngantuk yang tak tertahankan, aku sering melewatkan begitu saja, namun ia sangat indah untuk dikenang.
Hal ini sangat berbeda sekali dibanding kondisi menyambut bulan suci di Jakarta. Tak jarang, sholat taraweh berjamaah sering terlewatkan begitu saja karena berbagi kesibukan. Yang kuliah lah.. atau kesibukan kerja. Apalagi tadarusan hmmm…. Agaknya bulan suci kali ini pun, saya akan banyak absen sholat taraweh berjamaah. Bagaimana tidak? Pada saat banyak orang sibuk taraweh, saya masih akan disibukkan dengan kuliah malem.
Satu lagi kebiasaan warga Jakarta dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, yaitu berbondong-bondong memenuhi berbagai loket penjualan karcis kereta api. Seperti yang nampak pada gambar diatas. Itu adalah suasana di Stasiun KA Jatinegara 27 Agustus 2008 kemaren pagi jam 07.00 WIB. Mereka berdesak-desakan untuk sekedar mendapatkan selembar tiket kereta eksekutif atau bisnis guna keperluan pulang kampung. Agaknya mereka tak hanya bersiap menyambut bulan suci semata, namun langsung menyambut lebaran sekaligus! Hebat bukan? Puasa aja belum tapi udah siap-siap mau lebaran. Itulah Jakarta!
Selamat menunaikan ibadah puasa.
Kurindu suasana ramadhan di kampung halamanku. Apakah sampeyan para pembaca juga demikian?
Read original post at http://feeds.feedburner.com/~r/mazirwan/~3/377170179/ramadhan-di-kampung-halaman-vs-di.html
Related posts:
- 6 hari liburan seru di kampung halaman
- Puasa Ramadhan menjadikan Taqwa sebelas bulan setelahnya
- Jadwal imsyakiyah Bulan Ramadhan 1429H [Jakarta dan sekitarnya]
- seputar penghujung ramadhan
- Marhabban ya Ramadhan …
- Ramadhan di Ujung Pelupuk Mata
- Ramadhan Telah Datang…
- Ramadhan Mubarak 1429H
- Berkah Ramadhan
- tradisi pulang kampung
Wikusama (noun) : nick community alumni [1] widyaloka kusuma samekta makarya [2] tempat mencari ilmu yang bersinar, harum, mewangi, yang mendidik dan menyiapkan sumber daya manusia agar siap terjun ke dunia kerja [3] ikatan alumni smk telekomunikasi sandhy putra malang [4] tidak mengenal batas generasi dan umur; mailing-list [1] wikusama@wikusama.com
Latest Comments