Archive

Archive for August 16th, 2008

Nyata Untuknya . . .

August 16th, 2008 Administrator No comments

kenangan ini benar-benar menusuk jantungku , , ,
menghilangkan separuh hembusan nafasku , , ,
huffhh , ,, dia bukan milikku
setiap helak tawanya saat itu , ,
masih tercipta hanya untukku , , ,
tapi kini, takkan tawa itu mengalun seperti saat dia hanya untukku , ,
sekarang dia bukan milikku
hangat erat genggaman tangannya begitu terasa nyata , ,
nada-nada yang [...]

Read original post at http://thrckstr.wordpress.com/2008/08/16/nyata-untuknya/

Categories: Alumnus Blog Tags:

Malam yang mendebarkan sekaligus indah.

August 16th, 2008 Administrator No comments

“Pak.. pak… ketubanku udah pecah…”

Suara panik dari mulut istriku membuat tidur lelapku terjaga. Aku sekilas melihat jam menunjukkan jam 12 malam. Lekas aku cari kunci mobil dan menstaternya. Kulihat di lantai percikan-percihan air ketuban istriku telah berceceran dimana-mana, ruang tamu, kamar tidur dan juga teras. Si Lintang yang masih tertidur lelap langsung aku bopong dari kamar tidur menuju mobil. Setelah pintu rumah aku kunci, mobil kujalankan.

Laju kendaraan tak bisa kencang saat di dalam gang rumah kami. Jalanan gang yang sempit dan rusak menghalangi laju kencang mobilku. Syukurlah hal itu tak berlangsung lama. Mobil kupacu 60-80 km melintasi jalan Rawabinong, Lubang Buaya, Pondok Gede menju Rumah Sakit Haji Jakarta. Dalam perjalanan tak henti-hentinya kami kumandangkan istigfar menyebut nama Allah. Kulihat penderitaan istriku yang begitu hebatnya tak kuasa kumenitikkan airmata.

Sesampai di pintu gerbang RS Haji, mobil terus aku lajukan ke depan lobi. Teriakan petugas parkir kujawab bahwa sedang darurat. Sesampai di depan lobi, petugas keamanan (satpam) dengan sigap langsung menyediakan kursi roda buat istriku. Lintang yang tadi tertidur langsung ikut ibunya masuk ke RS. Tapi eittt…, kayaknya ada yang terlupa… Ternyata, Lintang belum pake baju saat aku bopong masuk ke mobil tadi. Ia hanya mengenakan celana dalam dan kaos singlet saja… Yah, memang begitulah kebiasaan dia saat tidur agar tidak kegerahan.

Setelah aku parkir, aku langsung menuju ke lantai 2 RS Haji. Disana istriku telah berbaring diatas tempat tidur ditemani beberapa suster. Dari hasil observasi sementara, ketuban telah pecah dan bercampur dengan kotoran bayi. Jadi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap bayinya, maka mau tak mau dianjurkan untuk dilakukan persalinan dengan operasi sesar. (sectio cito). Ya, apa boleh bikin, jika itu yang terbaik bagi istri dan calon jabang bayi.

Pada saat kami berangkat tadi, aku telah menghubungi dr. Budi melalui telepon genggam mengabarkan kondisi yang di hadapi istriku. Dokter ini, disaat-saat trimester ketiga kehamilan istriku, memang memberikan nomor telpon genggamnya untuk dihubungi sewaktu-waktu. Saat kami datang, dokter Budi masih melakukan operasi sesar. Jadi kami harus bersabar menunggu giliran. Sambil menunggu giliran, aku melengkapi persyaratan-persyaratan tindakan dari RS.

Akhirnya giliran istriku memasuki ruang operasi. Aku tak boleh ikut masuk kedalam, jadi harus menunggu di luar ruangan. Tak henti-hentinya aku berdo’a memohon kepada Allah untuk diberikan yang terbaik bagi kami semua.

Tepat pukul 01.38 WIB, tangisan bayi memecah keheningan malam. Itulah tangisan bayi kami. Tak lama seorang suster memberitahu bahwa bayi kami bisa ditengok. Kulihat bayi mungil itu dalam sebuah kotak. Bayi yang masih suci. Lamat-lamat kukumandangkan adzan dan iqomat di telinganya. Bayi itu terdiam dari tangisnya. Matanya yang bersih memandangku. Sungguh indah sekali.

Di ruangan lain, kulihat istriku sedang berbaring. Kelihatannya cukup lelah. Beberapa butir peluhnya masih tersisah di dahinya. Kuusap peluh itu sambil kubisikkan, “Terima kasih ya neng…”

Malam ini benar-benar sungguh mendebarkan, namun cukup indah.

Read original post at http://feeds.feedburner.com/~r/mazirwan/~3/374891662/malam-yang-mendebarkan-sekaligus-indah.html

Categories: Alumnus Blog Tags: