Home > Alumnus Blog > Hadiah Untuk Bidadariku

Hadiah Untuk Bidadariku

Beberapa saat setelah jam pulang kantor pukul 16:30 pm, aku menunggu sang istri sebentar untuk menyelesaikan tugasnya. Setelah 1 jam 10 menit aku menunggu, kita berdua berangkat ke Gambir untuk pulang dengan kereta express Kota-Depok.

10 menit perjalanan dari kantor ke Gambir, naek kendaraan roda 3 yang diimport dari kota bintang pelm Amita Bachan. India. Bajaj namanya. Dia adalah salah satu makhluq yang sering disumpah serapah oleh banyak orang, terutama pengendara mobil dan yang ke 2 adalah pengendara motor. Itu semua dikarenakan sifatnya yang sangat arogan. Belok kanan atau kiripun hanya Tuhan dan dia yang tahu. Kadang mungkin sang sopir sendiri nggak tahu dia mau belok ke mana qiqiqiqiqiqiqi…

Udahlah, kita gak usah bahas bajaj, kita lanjutkan ke perjalanan menuju Depok.
Dari kantor keluar lewat pintu belakang, ada 2 bajaj yang mangkal di situ.
“Ke Gambir mas… berapa ?”
“10 ribu mas…”
“Halah mas… biasane lho mek limangewu, kok dadi 10 ewu, pitungewu wes”
“Wolu ae mas…”
“Gak… pitungewu ae, wes cukup”
“Masuk gak mas ?”
“Gak usah, nang njobo ae”
“Yo wes mas”
Sampai Stasiun Gambir pukul 17:50 pm.
“Iki mas, suwun ya…”
“Iyo mas… “
Langsung menuju loket tiket. Beberapa orang ngantri di loket. Aku ambil uang 20 ribuan di kantong.
“2 tiket mas, Depok…”
Tanpa kata-kata sang petugas mengambil 2 tiket dan mengembalikan uang 2000 rupiah.
“Sudah dateng mas keretanya ?”
“Di Kota mas…”
“Oh… terima kasih”
Berarti sebentar lagi kereta akan sampe gambir yang sebelumnya melewati stasiun juanda terlebih dahulu.

Berjalan melewati eskalator dari pintu sisi selatan menuju ke lantai 2. Melanjutkan perjalanan lagi dengan eskalator berikutnya dari lantai 2 ke lantai 3. Menunggu beberapa saat. Kereta datang…
Alhamdulillaah, tidak terlalu ramai. Di pintu tempat aku masuk, ada beberapa kursi yang kosong. langsung duduk di samping kiri sang kekasih. Ada beberapa orang yang berdiri dan duduk di bawah. Yang duduk di bawah lebih memilih sebelah kiri dari arah kereta melaju. Karena di sisi itu pintu tidak digunakan untuk keluar masuk penumpang.

35 menit perjalanan hingga stasiun Depok Baru. Keluar dari kereta menuju ke lorong bawah tanah. Jembatan bawah tanah yang menghubungkan antara sisi barat dan sisi timur. Menuju ke ITC untuk melakukan sholat maghrib. Wah, waktu maghrib bentar lagi dah habis. Harus mempercepat langkah untuk menuju masjid ITC.

Setelah melakukan sholat maghrib, langsung menuju tempat yang memang sudah direncanakan untuk dikunjungi. Toko S*m***ra, salah satu toko perhiasan di ITC yang banyak pengunjungnya.
Memilih gelang yang menurut dia menarik, baik itu bentuk atau harga hehehe…
Seteleh sekitar 1 jam, akhirnya terpilih 1 gelang yang berbentuk kupu-kupu yang dirangkai. Satu sisi berwarna putih, yang satu sisi berwarna kuning emas. Berhubung sang ratu tidak suka dengan warna kuning emasnya, akhirnya dia minta untuk disepuh dia minta agar warna kuningnya seperti kuning emas yang diinginkan.

“Bisa nggak uda dijadikan kuninng emas seperti ini ?”, sambil menunjukkan contoh kuning emas gelang lain yang dia bawa.
“Bisa, tapi harus besok diambilnya kalau memang warna putihnya harus tetep dipertahankan putih”, kata sang pelayan toko. Dipanggil uda karena dia berasal dari Padang.
“Ya udah, aku pengen yang putih tetep putih, nggak papa kok nginep”, lanjut istriku.
“Besok habis sore ya diambilnya sekitar jam 4, soalnya takut lama…”
“Oh, gak papa. Aku paling sampe sini maghrib atau isya’”
“Wah… bagus dech, biar nggak keburu-buru juga”
“Ok… “

Akhirnya transaksi selesai, buat nota/bon sementara karena sang gelang masih harus disimpen di toko itu untuk dibawa ke “bengkel”. Setelah itu aku lihat-lihat cincin yang dipajang di situ. Beberapa cincin sudah aku lihat dan pegang untuk dilihat dan dicek. Ahirnya ada cincin yang tidak biasa digunakan orang atau dengan kata lain cincin yang tidak lazim. Bentuknya bunga (seperti bunga mawar) 2 buah. Saling berhubungan satu dengan yang lain. Ada juga 2 tangkai daun yang setiap daunnya ada batu matanya, nggak tau dari apa. Dari pecahan gelas apa pecahan piring atau bisa juga pecahan kaca :P
“Coba lihat cincin itu uda…”
“Yang mana ? Ini ?”, sambil tangannya masuk ke etalase kaca dan jarinya menunjuk pada satu cincin.
“Bukan… yang sebelahnya, yang bunga”
“Oh ini…”, dengan mengambil cincin dan mengeluarkan dari etalase.
Aku lihat dan aku cek. Lalu aku raih tangan kanan istriku. Aku masukkan ke jari tengah tangan kanan dia. Cukup pikirku.
Dengan agak bingung dia bilang, “Emang buat siapa mas cincin ini ? Buat ummah ?”
“Bukan… “, sahutku
“Trus buat siapa ? Yunin ?”
“Bukan…”
“Trus buat siapa ?”
“Ada dech… mau tau aja”
“Kok jari ade’ dipake contoh ?”
“Hehehe… emang gak boleh ya”
“Boleh aja… tapi buat siapa ? Buat ade’ ya..”, sambil senyum tersungging penuh dengan tanda tanya.
“Iya…”, jawabku dengan senyum.
“Bener ?”
“He eh…”
“Serius ?”
“Ya eyalah… masa’ ya eya donk”
Dengan senyum yang menambah dia semakin cantik dia bilang “Terima kasih sayangku, mas kok baik banget sich”
“Semoga sayangku senang dan bahagia”
Sambil berkaca-kaca dia bilang “I Love You”
“I do Love You…”

-dilantai2gubukkeindahan-

Read original post at http://m-awang-j.blogspot.com/2008/06/hadiah-untuk-bidadariku.html

Related posts:

  1. Hadiah Untuk Bidadariku
  2. hadiah dari Ayay
  3. Turnament Wikusama…Taruhan Atau Hadiah?
  4. Mencari ikan… untuk makan anak
  5. Turnament Wikusama…Taruhan Atau Hadiah?
  6. Mencari ikan… untuk makan anak
  7. Satu Rindu (Untuk Mama)
  8. Mudik Sarana Pemerataan Ekonomi
  9. Satu Rindu (Untuk Mama)
  10. Satu Rindu (Untuk Mama)Keluarga Uland

Categories: Alumnus Blog Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.