Home > Alumnus Blog > Kuwait storm

Kuwait storm

Semenjak datang di kuwait, perut ndeso-ku ini merana sekali, belum pernah sekalipun diisi nasi. Hari Jumat kemarin, mumpung weekend, saya niat mau makan nasi. Hotel tempat saya menginap ternyata tidak terlalu jauh dari salah satu pusat perbelanjaan besar di Kuwait, namanya Souq AlSharq. Kalau dilihat dari jendela kamar di lantai 16 kelihatannya sih tidak terlalu jauh, Jadi saya coba jalan kaki aja kesana. Setahun lebih yang lalu saya ingat ada warung Thailand disana, lumayan, ada nasi, kare khas Thailand, dsb. Sore2 sekitar pukul 16 saya berangkat jalan kaki kesana, ternyata kerasa lumayan jauh juga kalau dirasain jalan kaki.

Sampai di Souq langsung naik ke lantai dua dan voila,… warung Thailand yang kurindukan masih ada rupanya. Makan pake setelan rakus, satu porsi nasi plus ayam pedas sama udang pedas seharga 2.5 KD ludes. Padahal dulu seingat saya nggak pernah habis lho. Abis g makan nasi mikir2 mau pulang jalan kaki apa naik taksi ya? Yo wis, jalan kaki aja, ongkos taksinya buat beli kopi starbucks, buat temen jalan kaki.

Baru beberapa puluh meter keluar dari souq, kok perasaan angin tambah kenceng, trus langit jadi tambah gelap. Lihat ke arah kanan, masya Allah,… gelap banget, trus kelihatan pasir bergulung-gulung semakin mendekat. Weleh,…langsung aja saya balik kanan balik ke souq lagi.

media

Ternyata badainya seru banget, lebih seru dibanding badai pasir di Dubai dulu. Udah gitu abis pasirnya datang, disusul dengan hujan es, kata koran esok harinya kecepatan angin sampe tembus 100km/jam. Souq AlSharq ini lokasinya di tepi pantai, jadi kena anginnya yang paling kenceng. Bahkan didalam Souq air sampe muncrat dari bawah lantai, seru banget deh. Kira2 satu jam kemudian badainya sudah reda, hujannya juga berhenti total.

Souq AlSharq KuwaitKuwait StormKuwait Storm

Setelah sejam lebih nunggu ndak ada taksi, apalagi kondisi Souqnya kacau balau, semua orang pada mau pulang, akhirnya saya memutuskan untuk jalan kaki aja ke hotel. Jalanan pada banjir, udah gitu airnya dingin banget, sedingin air es. Jadi setiap beberapa puluh meter saya harus minggir cari tempat tinggi dulu, nunggu sampe kaki anget lagi. Di jalanan banyak pohon yang cabangnya pada berjatuhan. Orang-orang sudah banyak yang di luar, banyak mobil yang tertimpa cabang pohon. Sampai di hotel, udah capek ndak karuan, gimana ndak capek jalan kaki ndak sampe satu kilometer aja sampek sejam lebih, eeeee lha kok liftnya hotel mati. Kata resepsionis selesainya mungkin jam 12 malem,….halaaaah, akhirnya naik tangga 16 lantai deh….

Read original post at http://fahimi.org/?p=175

Related posts:

  1. Getting around with Kuwait bus
  2. Good ‘dusty’ morning Kuwait
  3. Good ‘dusty’ morning Kuwait
  4. Nasi Bebek Surabaya – Diponegoro
  5. Anak susah makan, ini tipsnya …
  6. Anak susah makan, ini tipsnya …
  7. Dan kesialan itupun berlanjut
  8. storm-control broadcast
  9. Busway oh Busway
  10. 2 Hari di Medan * * * * *

Categories: Alumnus Blog Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.