Archive

Archive for December 11th, 2007

GAK KONSISTEN !

December 11th, 2007 Administrator No comments
“Lanjutt” teriak mas yg jagain pintu TransJakarta (sebut saja security bus) saat Bus nyampek di pintu selatan Shelter Juanda.
“Tunggu2″ tiba2 ada yang menyela, seorang bapak tuwa (koordinator TransJakarta), sang sopir yang semula mau melanjutkan perjalanan jadi berhenti sejenak dan membuka kembali pintu busnya, kemudian secara serempak semua pandangan tertuju pada pintu masuk.
“Ehhh lu itu bisa kerja gak sihhh. Itu bis masih kosong, di sini penumpang bejubel kenapa gak diangkut? bla bla bla” dengan garang bapak tuwa itu marah2 dan memaki2 security
“ayoo2 penumpang kalideres, bisa naik bis ini”
Gruduuukkkkkkkk………penumpang2 menyerbu bus yang aku tumpangi dan seketika bus menjadi penuh.

Yhaa, itu tadi secuplik drama kehidupan Jakarta di pagi hari yang keras dan egois. Kejadian tersebut terjadi di Shelter Juanda. Sebenernya ada 2 pintu di shelter Juanda,

  • pintu utara –> u/ penumpang yg ingin turun di Juanda dan naiknya penumpang jurusan Kalideres, dan
  • pintu selatan –> u/ penumpang yg ingin turun di Juanda dan naiknya penumpang jurusan Pulogadung.

Sebelum ditetapkan dengan aturan tsb, baik pintu utara maupun pintu selatan bisa dipakek naik turunnya penumpang secara bebas, jurusan kalideres maupun Pulogadung, tapi hal itu membuat keadaan shelter yang udah penuh sesak menjadi semrawut dan membuat penumpang bingung mo antri dipintu mana. Setelah ditetapkan pembagian pintu tsb, meskipun shelter tetap penuh sesak, tapi paling gak penumpang lebih teratur. Dan aku setuju dengan pengaturan pintu tsb. (note: TransJakarta jurusan harmoni kalideres melewati shelter Juanda 2 kali, karena muter dulu di Pasar Baru)

Dan pagi ini sopir, security serta penumpang dikejutkan oleh bentakan bapak tuwa yang sok ngatur2 padahal dia salah. Kalo menurutku Bapak tuwa itu gak seharusnya memaki2 dan membentak2 security TransJakarta sebegitu marahnya sampek meledak2, yang mungkin bisa membuat securitynya down dan mangkel (*emangnya elu ving ???) dan yang pasti MALU, di tempat umum gitu loh, diliat dan diperhatiin orang banyak, plis deh Pak. Sebenernya masalah itu kan bisa didiskusikan di pool ato di kantornya . Lagian juga Pak Sopir dan Security nya sudah melaksanakan peraturan yang ada menurutku, kenapa dimarahin, disalahin?? Bego banget sihh (Kayaknya emang yang tuwa2 itu sudah waktunya untuk PENSIUN deh).


Kalo masalah penumpang yang numpuk di shelter, yha itu kan wajar, di Harmoni tiap hari juga bejubel sampek gak muat, apalagi Shelter Juanda deket dengan Stasiun, jadi yha wajar aja kalo TransJakarta sebagai alternatif penumpang u/ melanjutkan perjalanan sehingga shelter selalu penuh. Lagian juga masalah penumpang gak keangkut itu masalah management-nya, gimana ngatur bis2nya pada jam2 sibuk supaya semua penumpang tidak numpuk dan keangkut, bukan dengan melanggar aturan sakpenake udel’e dewe. GAK DISIPLIN dan TIDAK KONSISTEN itu namanya. Yha begitu itu dasar orang Indonesia, gak ada peraturan bingung, ada peraturan malah dilanggar2.

“Sini” panggil pak sopir ke securitynya melalui kaca spion yang menghadap kebelakang sambil melambaikan tangan. Security tsb menghampirinya. “lain kali perhatikan shelter yha, pasang mata, saat ini kan busway sedang dievaluasi, jadi banyak pengawas berkeliaran”
“yha Pak” jawabnya tegas tapi patuh. “atur2 aja deh, kl bapak tuwa tadi itu gak usah didengerin, kita sudah bener kok, sesuai aturan” “yha Pak” jawabnya tegas, sambil tersenyum.
Fyyiuuuhhh, lega ama omongan sopirnya ke rekan kerjanya, Trimakasih Pak Sopir TB 122, Anda memang sabar dan penuh pengertian kepada rekan kerja, gak ikut2an marah2, malah membesarkan hatinya. Seandainya semua bos seperti itu yha… selalu pengertian, memberi dukungan dan sabar..indahnya.

Gambar nyomot dari sini

-yangselalugemetartiapdengarbentakan2-

__D Building 2nd floor, DM, 11122007 __

Read original post at http://vivink.blogspot.com/2007/12/gak-konsisten.html

Categories: Alumnus Blog Tags:

Meneliti Abu Joan d’Arc,Benarkah Pahlawan Prancis Itu Dibakar Tiga Kali?

December 11th, 2007 Administrator No comments
Paris – Bagi warga Prancis, nama Joan d’Arc tidak asing lagi. Perempuan pahlawan abad ke-15 yang mati dibakar pada usia 19 tahun itu merupakan simbol kebangkitan bangsa Prancis. Kini, para ahli tengah menyelidiki abu yang dianggap berasal dari tubuhnya.
Sisa-sisa tubuh jenazah dilaporkan berhasil dikumpulkan dari onggokan kayu bakar di mana Joan d’Arc dibakar hidup-hidup. Temuan itu muncul hampir 600 tahun setelah abunya diyakini telah dibuang ke Sungai Seine.
Sebuah tim yang terdiri atas 18 pakar berencana melakukan serangkaian tes terhadap pecahan tulang dan jaringan kulit yang diduga berasal dari tubuh d’Arc.
Philippe Charlier, pakar forensik yang turut dalam penelitian itu, menyatakan analisis tersebut dapat memakan waktu enam bulan. Ia menambahkan penelitian itu tidak dapat memastikan bahwa bagian tubuh tersebut benar-benar milik Joan d’Arc, karena tidak ada sampel DNA yang dapat menjadi perbandingan. Namun, dari penelitian dapat diketahui jika tulang-tulang itu bukan berasal dari tubuh d’Arc.

Dibakar Tiga Kali
Dengan mengkaji susunan molekuler dan biokimia, tim berharap dapat menentukan secara tepat tahun dan keaslian sisa abu itu. Kombinasi teknik penentuan masa karbon dan analisis tentang jejak abu akan memungkinkan tim pakar menentukan usia abu hingga pada tahun dan bulan secara akurat.
Selain itu, bisa pula ditemukan fakta baru tentang pahlawan perempuan yang membantu Prancis memukul mundur pasukan Inggris di akhir Perang Seratus Tahun (1337-1453).
Menurut Charlier, d’Arc sebenarnya dibakar tiga kali pada 30 Mei 1431, menyusul persidangannya di Rouen, Normandia. Pada pembakaran pertama, d’Arc meninggal dunia karena terlalu banyak menghirup asap. Saat dibakar untuk kedua kalinya organ-organ dalamnya tidak semuanya terbakar. Dan pada pembakaran ketiga, tidak ada yang tersisa kecuali abunya.
Tulang iga sepanjang 15 sentimeter dan dibungkus dengan zat kimia berwarna hitam, disimpan dengan baik, kata Charlier. Ia menyatakan pertama-tama timnya akan melakukan uji DNA untuk menentukan jenis kelaminnya. Lalu mereka akan melanjutkan tes untuk menentukan usia tulang tersebut. Uji perbandingan DNA tidak dapat dilakukan karena garis keturunan Joan d’Arc kemungkinan salah, kata Charlier.
“Kami akan dapat menyatakan: Ini adalah abu seorang wanita yang tewas di Rouen (Prancis utara), berusia 19 tahun, yang meninggal dunia pada 1431 sekitar 30 Mei dan yang dibakar tiga kali pada hari yang sama,” ujar Charlier. Jika semua itu dapat dikonfirmasi, katanya, “Kita akan tahu dengan hampir pasti bahwa ini betul-betul Joan d’Arc.”

Mandat Tuhan
Dilahirkan di sebuah keluarga sederhana di Prancis Timur, Joan d’Arc menyatakan mendengar suara Tuhan dan mendapat mandatnya untuk mengusir Inggris keluar dari Prancis. D’Arc ditangkap tahun 1430 dan diadili dengan tuduhan menyebarkan klenik dan ilmu gaib setelah membawa kemenangan Prancis dalam beberapa pertempuran dalam Perang Seratus Tahun. Yang paling terkenal adalah pertempuran di Orleans, sebelah selatan Paris.
Gadis muda asal Lorraine yang sering menyamar sebagai pria dalam pertempuran itu pun dibakar di tiang pembakaran di Rouen, 30 Mei 1431. Dia dinyatakan tidak bersalah 7 Juli 1456 dan didaftarkan sebagai calon orang suci pada 11 April 1909. Joan d’Arc diangkat menjadi santa oleh Gereja Katolik pada 16 Mei 1920.
Kisah luar biasa yang dialami Joan d’Arc telah menjadi sumber ilham bagi para penulis Prancis, mulai dari Voltaire hingga pengarang masa kini.
Pernyataannya tentang ilham Ilahi dan keberhasilannya memukul mundur pasukan penyerbu Inggris, membuat dirinya sebagai simbol yang kuat kebangkitan bangsa Prancis.
Dia kemudian menjadi inspirasi mistis bagi para nasionalis Katolik Prancis dan telah digunakan secara kontroversial sebagai emblem Partai Front Nasional ekstrem kanan pimpinan Jean-Marie Le Pen, yang memperingati kematiannya setiap tahun.
Namun begitu, Charlier menegaskan dirinya didorong oleh rasa keingintahuan ilmiah belaka dan tak terpengaruh dengan “perdebatan” soal warisan yang ditinggalkan Joan d’Arc.
“Tak ada tujuan nasionalistis di belakang proyek ini, tak ada aspek keagamaan dan politis. Proyek ini betul-betul ilmiah dan investigasi sejarah,” katanya.
Abu Joan d’Arc, yang kini berada di bawah pengawasan sebuah asosiasi sejarah Prancis dan sekarang menjadi milik Gereja Katolik Roma di Tours, barat daya Prancis, merupakan satu-satunya jejak yang tersisa dari pahlawan perempuan itu.
Charlier sebelumnya mencatat keberhasilan mengidentifikasi penyebab kematian Agnes Sorel, wanita simpanan Raja Charles VII yakni keracunan mercuri. Namun, dia tidak mampu memastikan apakah peristiwa itu merupakan pembunuhan.
(ap/ant/afp/nat)

Read original post at b2ksadja blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

Meneliti Abu Joan d’Arc,Benarkah Pahlawan Prancis Itu Dibakar Tiga Kali?

December 11th, 2007 Administrator No comments
Paris – Bagi warga Prancis, nama Joan d’Arc tidak asing lagi. Perempuan pahlawan abad ke-15 yang mati dibakar pada usia 19 tahun itu merupakan simbol kebangkitan bangsa Prancis. Kini, para ahli tengah menyelidiki abu yang dianggap berasal dari tubuhnya.
Sisa-sisa tubuh jenazah dilaporkan berhasil dikumpulkan dari onggokan kayu bakar di mana Joan d’Arc dibakar hidup-hidup. Temuan itu muncul hampir 600 tahun setelah abunya diyakini telah dibuang ke Sungai Seine.
Sebuah tim yang terdiri atas 18 pakar berencana melakukan serangkaian tes terhadap pecahan tulang dan jaringan kulit yang diduga berasal dari tubuh d’Arc.
Philippe Charlier, pakar forensik yang turut dalam penelitian itu, menyatakan analisis tersebut dapat memakan waktu enam bulan. Ia menambahkan penelitian itu tidak dapat memastikan bahwa bagian tubuh tersebut benar-benar milik Joan d’Arc, karena tidak ada sampel DNA yang dapat menjadi perbandingan. Namun, dari penelitian dapat diketahui jika tulang-tulang itu bukan berasal dari tubuh d’Arc.

Dibakar Tiga Kali
Dengan mengkaji susunan molekuler dan biokimia, tim berharap dapat menentukan secara tepat tahun dan keaslian sisa abu itu. Kombinasi teknik penentuan masa karbon dan analisis tentang jejak abu akan memungkinkan tim pakar menentukan usia abu hingga pada tahun dan bulan secara akurat.
Selain itu, bisa pula ditemukan fakta baru tentang pahlawan perempuan yang membantu Prancis memukul mundur pasukan Inggris di akhir Perang Seratus Tahun (1337-1453).
Menurut Charlier, d’Arc sebenarnya dibakar tiga kali pada 30 Mei 1431, menyusul persidangannya di Rouen, Normandia. Pada pembakaran pertama, d’Arc meninggal dunia karena terlalu banyak menghirup asap. Saat dibakar untuk kedua kalinya organ-organ dalamnya tidak semuanya terbakar. Dan pada pembakaran ketiga, tidak ada yang tersisa kecuali abunya.
Tulang iga sepanjang 15 sentimeter dan dibungkus dengan zat kimia berwarna hitam, disimpan dengan baik, kata Charlier. Ia menyatakan pertama-tama timnya akan melakukan uji DNA untuk menentukan jenis kelaminnya. Lalu mereka akan melanjutkan tes untuk menentukan usia tulang tersebut. Uji perbandingan DNA tidak dapat dilakukan karena garis keturunan Joan d’Arc kemungkinan salah, kata Charlier.
“Kami akan dapat menyatakan: Ini adalah abu seorang wanita yang tewas di Rouen (Prancis utara), berusia 19 tahun, yang meninggal dunia pada 1431 sekitar 30 Mei dan yang dibakar tiga kali pada hari yang sama,” ujar Charlier. Jika semua itu dapat dikonfirmasi, katanya, “Kita akan tahu dengan hampir pasti bahwa ini betul-betul Joan d’Arc.”

Mandat Tuhan
Dilahirkan di sebuah keluarga sederhana di Prancis Timur, Joan d’Arc menyatakan mendengar suara Tuhan dan mendapat mandatnya untuk mengusir Inggris keluar dari Prancis. D’Arc ditangkap tahun 1430 dan diadili dengan tuduhan menyebarkan klenik dan ilmu gaib setelah membawa kemenangan Prancis dalam beberapa pertempuran dalam Perang Seratus Tahun. Yang paling terkenal adalah pertempuran di Orleans, sebelah selatan Paris.
Gadis muda asal Lorraine yang sering menyamar sebagai pria dalam pertempuran itu pun dibakar di tiang pembakaran di Rouen, 30 Mei 1431. Dia dinyatakan tidak bersalah 7 Juli 1456 dan didaftarkan sebagai calon orang suci pada 11 April 1909. Joan d’Arc diangkat menjadi santa oleh Gereja Katolik pada 16 Mei 1920.
Kisah luar biasa yang dialami Joan d’Arc telah menjadi sumber ilham bagi para penulis Prancis, mulai dari Voltaire hingga pengarang masa kini.
Pernyataannya tentang ilham Ilahi dan keberhasilannya memukul mundur pasukan penyerbu Inggris, membuat dirinya sebagai simbol yang kuat kebangkitan bangsa Prancis.
Dia kemudian menjadi inspirasi mistis bagi para nasionalis Katolik Prancis dan telah digunakan secara kontroversial sebagai emblem Partai Front Nasional ekstrem kanan pimpinan Jean-Marie Le Pen, yang memperingati kematiannya setiap tahun.
Namun begitu, Charlier menegaskan dirinya didorong oleh rasa keingintahuan ilmiah belaka dan tak terpengaruh dengan “perdebatan” soal warisan yang ditinggalkan Joan d’Arc.
“Tak ada tujuan nasionalistis di belakang proyek ini, tak ada aspek keagamaan dan politis. Proyek ini betul-betul ilmiah dan investigasi sejarah,” katanya.
Abu Joan d’Arc, yang kini berada di bawah pengawasan sebuah asosiasi sejarah Prancis dan sekarang menjadi milik Gereja Katolik Roma di Tours, barat daya Prancis, merupakan satu-satunya jejak yang tersisa dari pahlawan perempuan itu.
Charlier sebelumnya mencatat keberhasilan mengidentifikasi penyebab kematian Agnes Sorel, wanita simpanan Raja Charles VII yakni keracunan mercuri. Namun, dia tidak mampu memastikan apakah peristiwa itu merupakan pembunuhan.
(ap/ant/afp/nat)

Read original post at b2ksadja blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

Joan d’Arc ,Satria Wanita Pelindung Negara Perancis

December 11th, 2007 Administrator No comments

Joan adalah anak bungsu dari 5 bersaudara pasangan Jacques dan Issabelle d’Arcyang lahir di sebuah desa di Domremy pada tanggal 6 Januari 1412. Sejak kecil Joan sudah menunjukkan sikap yang begitu saleh terhadap masyarakat di sekitarnya. Ibunya begitu telaten mengajarkan kepadanya doa-doa seperti Bapa Kami, Salam Maria dan juga Credo.

Pada usia 13 tahun ia merasakan dorongan batin yang begitu kuat, ia mendengar ‘suara-suara’ yang memanggilnya agar selalu berbuat baik dan sering-sering mengunjungi gereja, dengan demikian ia akan selalu mendapatkan pertolongan Tuhan. Ia yakin bahwa ‘suara-suara’ yang ia dengar setiap hari itu adalah suara Tuhan melalui St. Mikael Sang Malaikat Agung, Sta. Katarina dan Sta. Margareta. Satu hari ‘suara-suara’ tadi mengatakan agar Joan menyelamatkan negara Perancis yang pada saat itu hampir seluruh wilayahnya dikuasai oleh pasukan Inggris dan Burgundi. Joan juga harus menghantarkan putera mahkota kerajaan Perancis yang bernama Charles untuk segera mengenakan mahkota sebagai raja Perancis dan mengusir tentara Inggris dari tanah Perancis.

23 Pebruari 1429 Joan menemui gubernur Sir Robert de Baudricort yang pro Perancis di kota Vaucoulers. Joan menceritakan ‘suara-suara’ yang didengarnya dan menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan putra mahkota Charles di Chinon. Setelah ditolak beberapa kali akhirnya Joan diijinkan untuk bertemu dengan sang putra mahkota.

Tidak gampang meyakinkan putra mahkota, terlebih-lebih pada saat kekuasaan gereja yang begitu besar pada saat itu. Setelah melalui penyidikan yang dilakukan oleh para pejabat gereja yang dipimpin oleh uskup agung Reims, Joan dijinkan untuk memimpin tentara Perancis. 29 April ia dan bala tentaranya memasuki kota Orleans. Ia berhasil memporak-porandakan kubu pertahanan tentara Inggris di Orleans pada tanggal 8 Mei. Tanggal 9 Juni, ia dan pasukannya memasuki lembah Loire, tanggal 19 Juni ia berhasil memukul mundur dan memaksa pasukan Inggris keluar dari lembah Loire.

Joan mendesak kepada pejabat kerajaan dan pejabat gereja untuk memahkotai putra mahkota secepatnya. Tanggal 17 Juli 1429, Charles dimahkotai dan resmi menjadi Raja Perancis.

Dengan alasan yang hanya diketahui oleh Raja Charles sendiri, sejak menjadi Raja ia tidak lagi mendengarkan nasihat maupun pendapat Joan. Kekuasaan telah membuat gelap mata raja muda ini, ditambah lagi dengan kekuasaan gereja yang mendominasi di lingkungan kerajaan.

Joan mendapatkan bisikan bahwa waktunya hanya tinggal satu tahun lagi untuk membantu Perancis melepaskan diri dari tangan Inggris. Hal ini juga sudah disampaikannya kepada Raja Charles, tetapi tetap saja Raja Charles tidak mengindahkannya. Hampir satu tahun Joan meyakinkan Raja Charles mengenai hal ini. Di tengah kebimbangan dan rasa frutrasi, Joan menjalankan misinya sendiri. 23 Mei 1430, Joan tertangkap di kota Compiegne, ia dikhianati oleh tentara Burgundia. Raja Charles yang mendengar kabar ditangkapnya Joan, tidak melakukan tindakan apa-apa. Joan dibiarkannya begitu saja. Sebagai tahanan di sana ia diperlakukan dengan baik, tetapi tanggal 21 November 1430 ia dipindahtangankan ke tentara Inggris. Di sanalah Joan merasakan siksaan-siksaan baik fisik dan psikis. Bagaimana Joan dapat bertahan dari siksaan itu semua adalah sebuah mukjizat bagi dirinya.

Pihak tentara Inggris begitu ingin membunuhnya, tetapi juga ingin mendiskreditkan Raja Charles melalui tangan gereja lewat uskup Cauchon dengan menyebarkan isu bahwa Joan adalah seorang ahli sihir dan seorang yang anti gereja.

Joan dibawa ke pengadilan uskup Beauviais dengan tuduhan pokok praktik sihir dan takhayul sebanyak 15 kali. Joan membela diri dan secara gemilang mendebat para penuntut-penuntutnya yang kebanyakan adalah kaum cendekiawan. Ia selalu menolak tuntutan untuk mengungkapkan ‘suara-suara’ yang didengarnya. Akhirnya Joan dinyatakan bersalah. Joan terkesiap dalam hati kecilnya ia merasa begitu takut akan hukuman bakar yang akan diterimanya.

Di dalam kamar tahanan ia berlutut sambil menangis memanggil-manggil para orang kudus yang membisikkan telinganya selama ini. Ia memanggil-manggil St. Mikael, Sta. Katarina dan Sta. Margareta, namun Joan tidak mendengar apa-apa, tidak ada satu jawaban ataupun bisikan di telinganya. Ia merasa takut yang amat sangat karena merasa ditinggalkan oleh Tuhannya. Namun entah darimana asalnya, rasa takut tadi berangsur-angsur hilang berganti dengan rasa keberanian yang begitu besar. Joan kembali menemukan kepercayaan dan keyakinannya lagi.

Malam sebelum Joan dibakar, dengan rasa ingin tahu yang besar dan juga kebimbangan uskup Beauvais mengunjunginya. Ia bertanya kepada Joan mengenai misteri ‘suara-suara’ yang dialami Joan. Uskup Beauvais sangat terperanjat dengan salah satu jawaban Joan, dengan lugu Joan mengatakan begitu jelas sosok St. Mikael. Beauvais menyadari bahwa apa yang dialami Joan lewat ‘suara-suara’ misteriusnya adalah suatu kebenaran bukan rekayasa Joan sendiri. Karena dokumen gereja mengenai Sang Malaikat Agung St. Mikael hanya ada di vatikan dan hanya pejabat vatikan tingkat tinggi saja yang mengetahuinya, sedang Joan sendiri adalah seorang wanita dari desa yang seumur-umur belum pernah ke Vatikan apalagi mengetahui dokumen tersebut.

30 Mei 1431 Joan dibakar hidup-hidup di alun-alun di Rouen. Joan menemui ajalnya melalui keputusan palsu pengadilan gereja yang tanpa malu-malu menjual kebenaran untuk tujuan politik Inggris.

Beberapa tahun kemudian, demi mempertahankan kedudukannya, Raja Charles berusaha dua kali membuktikan bahwa keputusan pengadilan itu tidak sah. Dua puluh lima tahun kemudian, Paus Kalistus III menunjuk suatu komisi untuk melakukan penyidikan atas keputusan pengadilan tersebut. Akhirnya dinyatakan melalui pengadilan gereja juga, bahwa keputusan itu dicapai atas dasar tipu daya belaka.

Tahun 1920, Joan dinyatakan kudus oleh Roma, bukan karena patriotisme atau keberaniannya di medan peperangan selama memimpin bala tentara Perancis, melainkan karena kesalehan hidup dan kesetiaannya dalam memenuhi apa yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Perayaan Santa Joan d’Arc ini dirayakan pada tiap-tiap tanggal 30 Mei.

salut buat joan of arc,tidak lupa salut juga buat ibukita kartini
Dari: Warta Mikael – http://www.wartamikael.org

Read original post at b2ksadja blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

Joan d’Arc ,Satria Wanita Pelindung Negara Perancis

December 11th, 2007 Administrator No comments

Joan adalah anak bungsu dari 5 bersaudara pasangan Jacques dan Issabelle d’Arcyang lahir di sebuah desa di Domremy pada tanggal 6 Januari 1412. Sejak kecil Joan sudah menunjukkan sikap yang begitu saleh terhadap masyarakat di sekitarnya. Ibunya begitu telaten mengajarkan kepadanya doa-doa seperti Bapa Kami, Salam Maria dan juga Credo.

Pada usia 13 tahun ia merasakan dorongan batin yang begitu kuat, ia mendengar ‘suara-suara’ yang memanggilnya agar selalu berbuat baik dan sering-sering mengunjungi gereja, dengan demikian ia akan selalu mendapatkan pertolongan Tuhan. Ia yakin bahwa ‘suara-suara’ yang ia dengar setiap hari itu adalah suara Tuhan melalui St. Mikael Sang Malaikat Agung, Sta. Katarina dan Sta. Margareta. Satu hari ‘suara-suara’ tadi mengatakan agar Joan menyelamatkan negara Perancis yang pada saat itu hampir seluruh wilayahnya dikuasai oleh pasukan Inggris dan Burgundi. Joan juga harus menghantarkan putera mahkota kerajaan Perancis yang bernama Charles untuk segera mengenakan mahkota sebagai raja Perancis dan mengusir tentara Inggris dari tanah Perancis.

23 Pebruari 1429 Joan menemui gubernur Sir Robert de Baudricort yang pro Perancis di kota Vaucoulers. Joan menceritakan ‘suara-suara’ yang didengarnya dan menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan putra mahkota Charles di Chinon. Setelah ditolak beberapa kali akhirnya Joan diijinkan untuk bertemu dengan sang putra mahkota.

Tidak gampang meyakinkan putra mahkota, terlebih-lebih pada saat kekuasaan gereja yang begitu besar pada saat itu. Setelah melalui penyidikan yang dilakukan oleh para pejabat gereja yang dipimpin oleh uskup agung Reims, Joan dijinkan untuk memimpin tentara Perancis. 29 April ia dan bala tentaranya memasuki kota Orleans. Ia berhasil memporak-porandakan kubu pertahanan tentara Inggris di Orleans pada tanggal 8 Mei. Tanggal 9 Juni, ia dan pasukannya memasuki lembah Loire, tanggal 19 Juni ia berhasil memukul mundur dan memaksa pasukan Inggris keluar dari lembah Loire.

Joan mendesak kepada pejabat kerajaan dan pejabat gereja untuk memahkotai putra mahkota secepatnya. Tanggal 17 Juli 1429, Charles dimahkotai dan resmi menjadi Raja Perancis.

Dengan alasan yang hanya diketahui oleh Raja Charles sendiri, sejak menjadi Raja ia tidak lagi mendengarkan nasihat maupun pendapat Joan. Kekuasaan telah membuat gelap mata raja muda ini, ditambah lagi dengan kekuasaan gereja yang mendominasi di lingkungan kerajaan.

Joan mendapatkan bisikan bahwa waktunya hanya tinggal satu tahun lagi untuk membantu Perancis melepaskan diri dari tangan Inggris. Hal ini juga sudah disampaikannya kepada Raja Charles, tetapi tetap saja Raja Charles tidak mengindahkannya. Hampir satu tahun Joan meyakinkan Raja Charles mengenai hal ini. Di tengah kebimbangan dan rasa frutrasi, Joan menjalankan misinya sendiri. 23 Mei 1430, Joan tertangkap di kota Compiegne, ia dikhianati oleh tentara Burgundia. Raja Charles yang mendengar kabar ditangkapnya Joan, tidak melakukan tindakan apa-apa. Joan dibiarkannya begitu saja. Sebagai tahanan di sana ia diperlakukan dengan baik, tetapi tanggal 21 November 1430 ia dipindahtangankan ke tentara Inggris. Di sanalah Joan merasakan siksaan-siksaan baik fisik dan psikis. Bagaimana Joan dapat bertahan dari siksaan itu semua adalah sebuah mukjizat bagi dirinya.

Pihak tentara Inggris begitu ingin membunuhnya, tetapi juga ingin mendiskreditkan Raja Charles melalui tangan gereja lewat uskup Cauchon dengan menyebarkan isu bahwa Joan adalah seorang ahli sihir dan seorang yang anti gereja.

Joan dibawa ke pengadilan uskup Beauviais dengan tuduhan pokok praktik sihir dan takhayul sebanyak 15 kali. Joan membela diri dan secara gemilang mendebat para penuntut-penuntutnya yang kebanyakan adalah kaum cendekiawan. Ia selalu menolak tuntutan untuk mengungkapkan ‘suara-suara’ yang didengarnya. Akhirnya Joan dinyatakan bersalah. Joan terkesiap dalam hati kecilnya ia merasa begitu takut akan hukuman bakar yang akan diterimanya.

Di dalam kamar tahanan ia berlutut sambil menangis memanggil-manggil para orang kudus yang membisikkan telinganya selama ini. Ia memanggil-manggil St. Mikael, Sta. Katarina dan Sta. Margareta, namun Joan tidak mendengar apa-apa, tidak ada satu jawaban ataupun bisikan di telinganya. Ia merasa takut yang amat sangat karena merasa ditinggalkan oleh Tuhannya. Namun entah darimana asalnya, rasa takut tadi berangsur-angsur hilang berganti dengan rasa keberanian yang begitu besar. Joan kembali menemukan kepercayaan dan keyakinannya lagi.

Malam sebelum Joan dibakar, dengan rasa ingin tahu yang besar dan juga kebimbangan uskup Beauvais mengunjunginya. Ia bertanya kepada Joan mengenai misteri ‘suara-suara’ yang dialami Joan. Uskup Beauvais sangat terperanjat dengan salah satu jawaban Joan, dengan lugu Joan mengatakan begitu jelas sosok St. Mikael. Beauvais menyadari bahwa apa yang dialami Joan lewat ‘suara-suara’ misteriusnya adalah suatu kebenaran bukan rekayasa Joan sendiri. Karena dokumen gereja mengenai Sang Malaikat Agung St. Mikael hanya ada di vatikan dan hanya pejabat vatikan tingkat tinggi saja yang mengetahuinya, sedang Joan sendiri adalah seorang wanita dari desa yang seumur-umur belum pernah ke Vatikan apalagi mengetahui dokumen tersebut.

30 Mei 1431 Joan dibakar hidup-hidup di alun-alun di Rouen. Joan menemui ajalnya melalui keputusan palsu pengadilan gereja yang tanpa malu-malu menjual kebenaran untuk tujuan politik Inggris.

Beberapa tahun kemudian, demi mempertahankan kedudukannya, Raja Charles berusaha dua kali membuktikan bahwa keputusan pengadilan itu tidak sah. Dua puluh lima tahun kemudian, Paus Kalistus III menunjuk suatu komisi untuk melakukan penyidikan atas keputusan pengadilan tersebut. Akhirnya dinyatakan melalui pengadilan gereja juga, bahwa keputusan itu dicapai atas dasar tipu daya belaka.

Tahun 1920, Joan dinyatakan kudus oleh Roma, bukan karena patriotisme atau keberaniannya di medan peperangan selama memimpin bala tentara Perancis, melainkan karena kesalehan hidup dan kesetiaannya dalam memenuhi apa yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Perayaan Santa Joan d’Arc ini dirayakan pada tiap-tiap tanggal 30 Mei.

salut buat joan of arc,tidak lupa salut juga buat ibukita kartini
Dari: Warta Mikael – http://www.wartamikael.org

Read original post at b2ksadja blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

Emas

December 11th, 2007 Administrator No comments

Cincinmu itu emas?
Jelas dong, hari gini pakai imitasi, malu lho gitu so what. Masa saleb seleb pakai kuningan atawa perak. Apa dunia kata nanti.
Kalungmu juga?
Ya iya lah, kenapa sih nanya-nanya mulu, sanggup beli apa!
Emas itu apaan sih?
Idiih, anak ini ndak gawul, syebel dech. Emas itu adalah bahan pembuat perhiasan, ukurannya karat. Besar karat maksimal 24. Orang sering nyebut emas 24, emas tua atau emas murni. Ada juga yang 23, 22, 21, 20 sampai 18 karat. Semakin tinggi karatnya semakin mahal. Kalau warnanya kuning seperti kalung dan antingku ini disebutnya emas kuning. Sedangkan yang putih seperti cincin dan gelangku ini disebut emas putih. Ngerti ora?
Terus kalau aku pengen beli, misalnya cincin gitu, gimana dong caranya?
Aduhhh, masa gitu aja gak ngerti sih, cabe dech. Gini lho, kamu dateng aja ke toko emas. Terus bilang, mbak atau mas saya mau beli cincin nih. Yang 5 gram 24 karat berapa ya? Oya, emas [...]

Read original post at sasongko blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

Yes, We Are Open

December 11th, 2007 Administrator No comments

Akhirnya, dengan segala kesiapan dan ketidaksiapan diri, butik kami buka kembali.Dan siap menerima pesanan.
Sekian dan Terima kasih
Salam,Butik Baru Online.

Read original post at sasongko blog

Categories: Alumnus Blog Tags: