Archive

Archive for January, 2007

Aku Mati Sejenak

January 29th, 2007 Administrator No comments

Seseorang membunuhku dengan keindahannya
Yang dulu pernah dia tancapkan di dada kini dia cabut dengan paksa
Jantung ini semburat ke tanah, terinjak, pecah
Hati ini tereksekusi mati…

Siangku suram, malamku gelap.
Dimana matahari yang selama ini menghangatkan, menyinari..
Hilang!!!!

Dimana aku sekarang, kenapa aku terbujur kaku disini.
Kenapa kain putih ini menyelimutiku.
Oh iya.. aku di liang lahat.
aku ingat.. Aku telah terbunuh.

HATI INI MATI

Read original post at Kang Parmind blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

Friendster, Multiply, and MySpace account

January 28th, 2007 Administrator No comments

this is my Multiply’s, not ready for fullrelease yet… ^.^

this is my Friendster’s, best place to keep in touch with me…

this is my MySpace’s, same as multiply’s its doesn’t ready to rellease yet… ^.^

and this is a friendster’s thats relleased specially for my best sister ever meet ^.^

Read original post at http://armadia.blogspot.com/2007/01/friendster-multiply-and-myspace-account.html

Categories: Alumnus Blog Tags:

#105: Anugerah Yang Terindah

January 25th, 2007 Administrator No comments


Ketika usianya masih 10 bulan, dia sudah bisa mengucapkan 120 (kosa) kata lebih, dan berusaha untuk bisa merangkai dua kata dalam satu pengucapan. Kini, usianya sudah “setahun-akan 4 bulan” (16 bulan). Setiap aku pulang kerja dan mencoba meraih koran untuk kubaca, selalu dia mendekat, kemudian mencoba “merusak suasana”.

“Pa-pa ba-ca ko-lan In-jo-Posh”, sambil ia tunjuk-tunjukkan jari telunjuknya di koran Indo Pos yang kubaca.

Tentu saja, koran yang kubaca jadi semburat. Melihat “kenakalan” itu, aku hanya bisa tersenyum memaklumi masa kecilku dulu. Soal “minat baca”, unik memang. Saat ia masih bayi-cenger, ketika menangis, ia akan diam bila didekatkan di rak buku. Dia tersenyum melihat buku yang tebal-tipis, baru dan kusam, berwarna-warni berjejer di rak buku.

Pambayun…

Dia sekarang sudah besar. Bisa diajak bercanda. Sense of humor-nya tinggi. Pintar berkomunikasi. Diajak ngomong apa saja nyambung. Dia tipe “bayi gaul”. Temannya banyak. Satu komplek kenal semua. Kalau sore atau liburan begini, teman-temannya yang TK ataupun SD akan bermain di rumah. Membaca, mewarnai, dan bermain apa saja. Ramai jadinya. Kalau mereka sudah bubar, rumah jadi berantakan. Layaknya rumah baca anak-anak! Hmm…

Nakmas…

Kini, dia sudah bisa ku-keloni untuk kuajak tidur -sebagaimana yang pernah aku inginkan ketika dia masih bayi. Tapi bukannya ia tidur, malah ngajak bicara, cerita atau bercanda. Begitulah bila ia akan tidur dan aku ada di sisinya. Dia tak akan mau tidur. Dia hanya mau tidur dengan mamanya.

Sekar Ayu…

Ia tumbuh begitu cepat. Tak terasa, ia sudah begitu besar. Mengingatkanku, bahwa diriku sudah menjadi seorang bapak (karena terkadang masih merasa sebagai bujangan :-) . Melihat cara komunikasinya, terkadang aku sering lupa memperlakukannya seperti bocah 4 tahunan; mengajaknya bicara terlalu serius. Bila kemudian ingat, “Oh, iya, kamu masih setahun-empat bulan, Nak!”

Sekar Ayu Nakmas Pambayun…

Sewaktu dulu ia masih dalam perut mamanya, sering kuciumi. Hanya satu pintaku pada-Nya, “Ya Tuhan, dia adalah anugerah yang terindah yang kumiliki. Semoga, nur-Mu selalu menyertainya kelak”.

Melihat minatmu itu, selamat datang di dunia baca, Nak!

Pesanggrahan Bumi Ciangsana, 3 Juli 2006
(c) Gus John

Read original post at @GusJohn blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

#104: no identification

January 24th, 2007 Administrator No comments

Read original post at @GusJohn blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

#103: Hidup Bermasyarakat

January 24th, 2007 Administrator No comments


Jangan pernah membenci sesuatu secara berlebihan, karena bisa jadi kita akan menjadi bagian dari apa yang kita benci itu. Barangkali, ini adalah sebuah kata bijak yang cukup ampuh terbukti “tuah”-nya. Contoh sederhana, banyak orang yang menikah pada mulanya saling benci atau tidak suka. Banyak orang membenci sesuatu, tapi tak lama kemudian ia berada (terkondisikan) dalam apa yang ia benci itu. Seperti halnya yang sekarang penulis alami.

Dulu –sewaktu masih bergulat dengan dunia dan wacana LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), saya paling alergi dengan segala sesuatu yang berbau militerisme. Tapi sekarang, Tuhan menakdirkan saya untuk hidup bertetangga dengan puluhan prajurit militer, termasuk diantaranya 5 orang Kapten TNI AL dan 1 orang AKBP (setingkat Letkol) Mabes Polri. Bisa dipastikan, dalam hitungan 8 hingga 20 tahun mendatang, bila kenaikan pangkat mereka dihitung secara wajar sesuai dengan aturan kenaikan per-4 tahunan, maka saya memiliki banyak tetangga yang level jenderal. Belum mereka yang berprofesi sebagai sutradara dan krew film, serta anak-anak perwira menengah (pamen) militer.

Tapi, bukan soal jabatan dan pangkat itu yang ingin saya bahas. Dan bukan pula soal kebencian yang berbuah “tuah”. Yang ingin saya ulas adalah bagaimana posisi mereka (para perwira militer itu) dalam kehidupan bersosial-masyarakat, hidup bertetangga dalam satu komplek perumahan. Karena memang ada yang menarik, bahwa orang yang dianggap sebagai sesepuh (yang dihormati) di komplek perumahan saya itu justru orang yang profesinya biasa saja. Ada yang bekerja di sebuah bengkel motor di kawasan Otista, dan satunya lagi pernah sebagai kurir di Mega Kuningan. Sedangkan, Ketua RT-nya berprofesi sebagai pemborong bangunan. Padahal, banyak perwira di sana.

Dalam setiap rapat atau kerja bakti yang diadakan RT misalnya, para perwira itu jarang sekali yang ikutan gabung. Justru para prajurit dan sersan yang paling aktif di lingkungan warga. Ada memang satu-dua perwira yang jiwanya gaul, selebihnya tidak. Seringkali malah para perwira cuek itu menjadi bahan omongan para prajurit dan warga sipil lain. Kata salah seorang prajurit, jabatan perwira itu memang jabatan yang penuh dengan 3-J : jaim (jaga image), jarak (jaga jarak), jawa (jaga wibawa). Akhirnya mereka sendiri mengalami kesulitan dalam bermasyarakat.

Mereka (para perwira yang tidak gaul itu), terisolasi dari pergaulan masyarakat dan bahkan dari parjuritnya sendiri akibat dari 3-J tadi. Karena tidak mau gaul, tidak mau low profile, dan terkesan tidak peduli pada lingkungan sekitar, jabatan mereka yang tinggi di kantor seolah tiada artinya di lingkungan masyarakat. Buktinya, seorang kurir pun bisa sebagai “sesepuh” (lebih dominan suaranya) di masyarakat. Dalam hal ini, sanksi sosial/moral masyarakat yang akan menilai apakah seseorang itu berguna bagi lingkungannya. Orang yang dihormati berbeda dengan orang yang ditakuti. Dihormati biasanya identik dengan disegani dan dikagumi. Tapi ditakuti, lebih ke arah caci-maki, sumpah-serapah, jadi bahan omongan orang lain. Untuk menjadi orang yang dihormati tidak perlu harus 3-J. Asal mau dan mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan masyarakat, itu sudah cukup.

Inti dari tulisan (baca: “teori baru” ) ini adalah, bahwa “orang yang berpangkat, memiliki kedudukan dan jabatan yang bagus di suatu organisasi –entah itu perusahaan atau institusi yang lain- belum tentu mempunyai posisi yang bagus pula dalam kehidupan bermasyarakat”. Yang penting adalah adanya i’tikad baik dalam hidup bermasyarakat.
Selebihnya, wallahu’alam bi ash showab.

*dedicated to my sweet baby; S-Ay. NakMas Pambayun.

Landmark Tower-B Suite 801, 20 April 2006
(c) Gus John
>>Cepatlah besar Matahariku! Kamu semakin cerdas, Nak??!!!

Read original post at @GusJohn blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

Baju yang lain

January 23rd, 2007 Administrator No comments

Harga Dress Next 65 ribu size 1 th- 5 thHarga Stelan Oshkos 65 ribu size 2 th dan 3

Read original post at sasongko blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

Fiktif : Atas Nama Cinta

January 19th, 2007 Administrator No comments

Dia, adalah perempuan biasa yang berusaha tegar untuk tetap menatap hidup ini dengan sisa-sisa cinta yg tak pernah mati … untuknya … dia yang bukan kekasihnya. Langit masih mendung menyisakan basah hujan deras semalam, alam seperti ini bukan pembuktian untuk menegaskan betapa kelabunya hati Nadia saat ini. Entah sejak kapan perasaan ini semakin menjadi dan begitu menyesakkan hati setiap detik yang Dia lalui tanpa bisa memperjuangkan apa-apa atas cinta yang selalu dikuburkannya dalam-dalam ke jauh di masa silamnya.

Seperti biasa sepulang kerja Dia selalu dijemput kekasihnya, titik-titik air hujan mulai menyirami kaca mobil yang mereka kendarai.
“Di, kamu sakit ya? kok tumben dari tadi diem aja?” pertanyaan Rendy membuyarkan lamunan Nadia seketika.
“Engga kok, biasa aja, hanya capek aja, tadi jobku lumayan banyak”, apa kamu perlu tau segala yg terjadi dalam hatiku, kamu terlalu baik Ren, ga sepantasnya aku memperlakukanmu seperti ini, Nadia hanya bisa membatin semua risaunya, sekilas diliriknya Rendy yang masih konsentrasi dengan jalanan yang semakin macet. Empat puluh lima menit berlalu, tepat kini mereka berada di depan rumah Nadia.
“Ga masuk dulu Ren?” tawar Nadia.
“Ga usah deh, makin deras nih hujannya, aku langsung pulang aja,” jawab Rendy berusaha sebisa mungkin agar tidak menyinggung perasaan Nadia.
“Ya udah, ati-ati ya,” dengan senyum kecil Nadia melepas Rendy pulang sore itu.

***

Malam itu, Nadia kembali hanyut dalam lamunannya, Dia tak ingin seperti ini tapi entah kenapa akhir-akhir ini rasa itu begitu kencang datang bertubi-tubi membuka semua kenangan masa silamnya. Padahal sebelumnya tak ada kejadian apapun yang membuatnya harus mengingat lagi akan cinta yang masih panas dalam hatinya. Dan malam ini, Nadia semakin jauh terbawa ke dalam rasanya yang kian menyiksa. Sudah tak bisa lagi, Dia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan laju perasaannya yang kian tak menentu. Diambilnya HP yang tergeletak di atas tempat tidurnya, dengan gesit dia mulai mengetikkan SMS.
“Ratih, sorry nih ganggu mlm2. Kmu msh sering ketemu Arga? Gmn kbrnya?” SMS terkirim dengan sukses. Ratih adalah teman lamanya Nadia yang sekarang tinggal satu kota dengan Arga, dan Arga adalah lelaki yang tak pernah bisa dia lupakan dalam hidupnya sampai sekarang. Tiga puluh menit berlalu tanpa ada balasan dari Ratih, sebenarnya Nadia sudah tidak sabar, tapi Dia berusaha untuk menahan diri. Tiba-tiba ringtone SMS memecah keheningan malam itu.
“Dia, sebnrnya dr minggu lalu aq ingin bilang k kmu, tp tdk berani, kmu yakin ingin tau kbrnya Arga?” SMS Ratih benar-benar membuat Nadia semakin penasaran, Nadia sudah siap dgn segala kemungkinan terburuk.
“Ada apa dgn Arga? Apa dia sdh menikah? Knp dia tdk mengundangku? Meskipun hatiku sakit pasti aq akan dtg utknya…”
Sebenarnya Nadia tdk yakin apa dia bisa kuat menghadiri acara pernikahan Arga seandainya memang itu terjadi.
“Bukan itu Di. Arga masuk RS, ternyata dia menderita tumor otak”
DEG … !! Malam terasa semakin hening, Nadia tak ingin mempercayai berita ini. HP di tangannya terlepas begitu saja. Butir-butir air mata membanjir dengan derasnya di pipi Nadia. Sepuluh menit berlalu dalam isak tangis Nadia. Tiba-tiba HPnya berdering, tertera nama Ratih di layarnya.
“Ya?” sahut Dia dgn suara bergetar.
“Di … ” belum sempat Ratih bicara sudah dipotong oleh Nadia.
“Rat, bilang kalau kamu hanya bercanda, bilang kalau kamu hanya ngerjain aku seperti biasanya, bilang kalau Arga baik-baik saja di sana … ,”
“Di…,” Ratih benar-benar tak tau harus bicara apa.
“Rat, kamu bohong kan?”
“Di, maaf .. bagaimanapun akhirnya kamu harus tau, Arga memang sakit Di, aku… ” Ratih tak sanggup melanjutkan kalimatnya ketika mendengar tangis Nadia yang kian menjadi dr seberang sana.
“Di, sebaiknya kamu tenang dulu, sabtu ini aku temani kamu untuk menjenguknya,”
Dan begitulah, malam itu benar-benar menjadi malam terpanjang seumur hidup Nadia, menunggu pagi menyapa lagi. Dan dia ingin terbangun, berharap semua ini hanya mimpi.

***

Pagi itu, Rendy menjemput Nadia, tapi Nadia sudah tidak ada di rumah. Orang tuanya bilang kalau Nadia sudah berangkat dari tadi. Rendy tak habis pikir dengan kelakuan Nadia akhir-akhir ini, HP Nadia tak aktif ketika Rendy berusaha untuk menghubunginya.

Sementara itu di kota X Nadia sudah berada di halaman Rumah Sakit bersama Ratih, Ratih sendiri terkejut dengan kehadiran Nadia yang mendadak sekali, apalagi di hari kerja, akhirnya terpaksa Ratih ijin pada atasannya.

Nadia sudah bisa membendung air matanya, meskipun rautnya tak bisa menyembunyikan luka yang terdalam jauh di hatinya. Pagi itu hanya ada Arini adiknya Arga yang menunggu di Rumah Sakit. Ketika masuk ke ruangan itu, Nadia seakan tak percaya bahwa yang terbaring di ranjang adalah Arga, lelaki yang selama ini dicintainya, yang dulu pernah mengisi kehidupannya sebelum akhirnya mereka putus karena suatu hal.
“Arini …” lirih Nadia memanggil adik Arga.
“Mbak Nadia?!” kaget Arini menatap Nadia ada di situ, kemudian mereka berpelukan. Dan Nadia akhirnya tak bisa lagi membendung air matanya.
“Yang sabar ya Rin…” kata Nadia, yang sebenarnya dia ingin menguatkan hatinya sendiri.
“Iya mbak”
Nadia melepas pelukan Arini dan melangkah perlahan ke ranjang Arga. Air matanya kian menderas. Nadia duduk di kursi yang berada persis di samping Arga. Ditatapnya wajah itu, lama … tak ada tanda-tanda Arga akan siuman. Lirih sekali Nadia memulai bicara pada Arga, entah Arga mendengar atau tidak, Nadia hanya ingin melepas semua lukanya yang tersimpan selama satu tahun lebih dalam ketidak sanggupannya untuk mempertahankan cintanya pada Arga.
“Arga … ini aku, Nadia … Aku tak sanggup melihatmu seperti ini, rasanya jauh lebih sakit drpd aku harus melepaskanmu, seandainya bisa … aku ingin menggantikanmu berbaring di sini, merasakan tiap detik rasa sakitmu. Arga … kamu harus kuat, kamu harus sembuh, aku … aku … masih sangat cinta sama kamu …” Nadia sudah tak sanggup lagi untuk meneruskan semuanya.

***

“Hai Nadia, apa kabar?” sapa Arga terlihat begitu segarnya.
“Arga?! Kamu sudah sembuh?” tanya Nadia kaget bercampur senang, Dia tak mengira akan secepat ini kesembuhan Arga.
“Iya, senang bisa melihatmu lagi,” sahut Arga dengan senyumnya yang tak akan pernah Nadia lupakan.
“Aku juga senang melihatmu sudah sehat lagi,” Nadia masih tak percaya dengan kenyataan yang ada di depannya kini.
“Di, aku … sebenarnya aku ke sini hanya ingin bilang, aku mendengar semua perkataanmu waktu di rumah sakit,” kata Arga. Tiba-tiba saja, raut muka Nadia langsung merona. Betapa tidak, malu sekali dia telah mengatakan kalau dia masih mencintai Arga. Nadia hanya bisa terdiam, menunduk.
“Di … sebenarnya … aku juga masih sayang kamu,” ucap Arga tegas, seketika Nadia langsung menatap wajah Arga, ada raut bahagia di sana, tapi juga ada sakit yang terlihat samar.
“Kamu serius Ga? Tapi aku …” Nadia tidak jadi melanjutkan kalimatnya.
“Iya, tapi aku tidak bisa menemanimu lagi Di…” sahut Arga melirih.
“Kenapa begitu Ga?” Nadia begitu terkejut mendengarnya.
“Karena aku harus pergi …”
“Apa kamu ditugaskan ke luar kota? Aku bisa menunggumu, aku tak ingin kehilangan kamu lagi Ga.”
“Masalahnya tdk semudah itu Di, aku harus pergi, dan kamu tak akan sanggup untuk menungguku.”
“Tapi Ga …”
“Di, sudah waktunya aku untuk pergi … Selamat tinggal …” Arga pergi begitu saja meninggalkan Nadia dalam ketidak berdayaan.
“Arga !!! Argaaaaa !!!!”
Deg … malam yang dingin ini terasa panas bagi Nadia, tiba-tiba Dia terbangun dari tidurnya. Dilihatnya jam di meja, masih pukul 02.40 WIB. Hhhff … Nadia hanya bermimpi, tapi mimpi itu terasa begitu nyata, dan malam itu Nadia terjaga sampai pagi. Ketika hendak berangkat kerja tiba-tiba ponselnya berdering.
“Hallo …”
“Nadia …”
“Ya? Ada apa Rat?” perasaan Nadia tiba-tiba saja tidak tenang.
“Di, yang tabah ya
… aku dapat kabar dari Arini, katanya semalam Arga meninggal, sekitar jam 02.40,”
Ingatan Nadia langsung kembali pada mimpinya semalam, semua terasa masih begitu hangat dalam ingatan, semua tentang Arga, dan tiba-tiba langit jadi menghitam, kemudian Nadia tak sadar yang selanjutnya terjadi. Ketika terbangun Nadia sudah berada di tempat tidurnya lagi. Di situ sudah ada Ibunya dan Rendy.
“Nadia, kamu sudah sadar? sepertinya kamu kecapekan sampai pingsan,” sapa Rendy.
Seketika Nadia terduduk, dan melihat jam tangannya, sudah jam 09.10 WIB.
“Ren, aku harus ke kota X, sekarang ..” Nadia bangun dr tempat tidurnya dan bergegas untuk bersiap-siap berangkat.
“Nadia, ada apa? Kamu masih ga enak badan, kamu harus istirahat,” cegah Rendy.
“Tapi ini harus, kamu bisa anterin aku kan Ren,” pinta Nadia hampir menangis.
“Ok, ok … kamu siap-siap dulu”
Rendy masih tetap tak mengerti ada apa ini sebenarnya. Dan Nadia masih tak membuka mulut sama sekali selama perjalanan. Sampai akhirnya Rendy tau apa yang sedang terjadi sebenarnya. Ya … di pemakaman itu Rendy baru tersadar bahwa Nadia ingin melepaskan kepergian Arga untuk yang terakhir kalinya. Ada rasa sakit yang menusuk di hati Rendy, tapi tentu saja dia tak bisa berbuat apa-apa.
Dan selama pemakaman itu Nadia tak pernah berhenti menangis, sedetikpun tidak. Rendy hanya bisa berusaha membuat Nadia tetap tegar, meskipun dia sendiri juga harus tegar menghadapai kenyataan bahwa Nadia masih mencintai Arga.

Perjalanan pulang juga masih diselimuti kebisuan di antara Nadia dan Rendy. Akhirnya Rendy membuka percakapan.
“Di, kamu masih belum bisa melupakan Arga ya?” tanya Rendy hati-hati.
“Maaf Ren, kalau selama ini aku berpura-pura menyayangimu, aku memang masih blm bisa melupakan Arga,” jawab Nadia pasrah.
Rendy hanya terdiam, entah siapa sekarang yang lebih sakit di antara mereka.
“Sekarang semuanya terserah Rendy, aku tak bisa memaksa kamu untuk tetap bersama aku,” lanjut Nadia.
“Di, aku akan selalu menunggumu, sampai kamu bisa benar-benar menyayangiku dan bersedia menikah denganku … ,” kalimat Rendy benar-benar membuat Nadia semakin merasa bersalah, Nadia hanya bisa menatap kagum pada lelaki di sampingnya.
“Karena hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu … ” lanjut Rendy sambil tersenyum.
Nadia hanya bisa tersenyum. Semuanya harus tetap berjalan, masa depan masih harus dihadapi, meskipun sekarang belum ada cinta untuk Rendy, tapi pasti Tuhan akan menunjukkan jalan yang terbaik.

Lamat-lamat terdengar lagunya Rossa dari radio yang ada di mobil dan baru saja dinyalakan Rendy untuk menghilangkan keheningan ini.

Rossa – Atas Nama Cinta

Aku wanita yang punya cinta di hati
Dan dirimu dan dirinya dalam hidupku
Mengapa terlambat cintamu telah termiliki
Sedang diriku dengan dia tak begitu cinta

Mengapa yang lain bisa
Mendua dengan mudahnya
Namun kita terbelenggu
Dalam ikatan tanpa cinta

Atas nama cinta
Hati ini tak mungkin terbagi
Sampai nanti bila aku mati
Cinta ini hanya untuk engkau
Atas nama cinta
Kurelakan jalanku merana
Asal engkau akhirnya denganku
Kubersumpah atas nama cinta

Read original post at http://noteverend.blogspot.com/2007/01/fiktif-atas-nama-cinta.html

Categories: Alumnus Blog Tags:

Dialog Hitam Putih

January 17th, 2007 Administrator No comments

+ Jangan egois!!
- Aq juga ga pingin jd makhluk egois, aq sdh berusaha tapi susah bgt :(
+ Susah bukan berarti ga bisa kan?!?!?!
- Iya, iya … ini juga lagi berusaha mengendalikan egoismeku …
+ Jangan jd orang yg keras kepala!!
- Hah?!?! Aq kan hanya mempertahankan pendapatku …!
+ Ya gpp asal benar dan bukan berarti ga bisa dikritik.
- Bukannya ga mau dikritik, tapi selama bisa dibuktikan klo aq ga spt itu ya knp musti diem?!?!
+ Ini nih … suka ngeyel, gini ga mau disebut keras kepala …ck…ck…ck…apa ruginya sih sedikit mengerem emosi
- ?!@?#$#*&(*&^^% …:( (lagi-lagi hanya bisa bilang) iya … iya …
+ Kmu orangnya moody banget …
- Trs knp? Emangnya salah ya?
+ Sebnrnya sih ga salah asal kmu bisa menempatkan diri
- Contohnya?
+ Ya kmu itu klo lagi ga enak ati keliataaaan bgt, bikin orang lain jd ga enak juga ngeliat kmu, semua kamu tanggepin sinis, pdhal yg bikin kmu ga enak ati bukan orang tsb. Jadinya kmu itu terkesan semau gw. Lebih baik diubah deh sifat yg kayak gitu, selain ga baik buat hubungan sosial juga ga baik buat kesehatan.
- Lah, kesehatan dibawa-bawa pula, apa hubungannya ??
+ Soalnya klo kmu lg bad mood jd males ngapa-ngapain. Boro-boro ngerjain tugas, makan aja jd tambah males, apa itu ga merugikan kesehatan. Blm lg klo suatu saat kamu ngadepin orang yg tempramen, kmu sinisin dianya … bisa diabisin kmu, nah … ga baik juga kan buat kesehatan …
- Yeeeee …… terlalu dibuat-buat tuh alesannya, ga logis ah
+ Yg penting itu kmu kendalikan moody kmu biar orang-orang ga sebel sama kmu, ntar ga punya temen baru tau rasa
- Ya elah … iya …iya … *(&*^%^$(_)_*(&%^T
+ Jadi inget yaaa!! Jangan suka mikirin diri sendiri! Klo mo ngapa-ngapain juga musti mikirin nanti dampaknya ke orang lain, kmu hidup itu kan ga sendiri …
- Iyaaaaa… trs ini masih lama ga? masih banyak ya yg mo diprotes??!! Dah capek nih dengerinnya …:(
+ Sebenernya sih masih banyak, tapi ya udahlah, itu PR kmu diberesin aja dulu, ntar aq kasih masukan banyak-banyak juga percuma klo sekedar masuk telinga kiri keluar telinga kanan
- Nah gitu donk pengertian … jgn sering-sering ya protesnya …
+ Itu tergantung kmu, berubah ga??!! Blm apa-apa dah ngeyel duluan …klo..
- Iya ..iya…iya … ya udah …stop sampai di sini dulu ya (harus buru-buru kabur seblm diceramahin lagi …)

Hhhhfff … di atas itu dialog antara si hitam dan si putih dalam diriku …:D

Read original post at http://noteverend.blogspot.com/2007/01/dialog-hitam-putih.html

Categories: Alumnus Blog Tags:

Selamat Tinggal

January 17th, 2007 Administrator No comments

Jakarta, Teman Kantor, Kawan, Pak Bos, Pak Kos, Bu Kos, H. Mali dkk, Mbak Pirak, SAG-JT, Siang yang panas, malam yang gerah, Asap yang menggumpal…
Selamat tinggal semuanya. Ku kan merindukanmu.

Ku kembali ke kotaku..

Read original post at Kang Parmind blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

#102: Silaturahmi dan (Siapa Tahu) Peluang Bagi Esia

January 17th, 2007 Administrator No comments


Beberapa hari yang lalu, saya “sowan” ke rumah seorang Kombes Polisi yang kebetulan tetangga perumahan saya di “Villa Ciangsana”. Kebetulan, sang Kombes yang berdinas di Polda Jabar itu ada acara ‘kondangan’ di tetangga sebelah rumahnya di Komplek Polri Jatirangga.

Semampang ada acara di Jakarta itulah dia menghubungi penulis untuk main ke rumahnya. Karena waktu itu saya masih di Cikoneng (Ciamis), maka saya janji untuk datang pada hari minggunya. Baru pas minggu pagi, saya ajak putriku Pambayun bersilaturahmi ke rumah Pak Kombes yang asri, dekat dengan kawasan Hutan Binong di daerah Jatisari, Pondok Gede.

Pak Kombes yang satu angkatan dengan Kabareskrim, Komjen Makbul Padmanegara -mantan Kapolda Metro Jaya-ini memang tipe orang yang ramah. Enak diajak ngobrol. Dengan hanya memakai t-shirt dan celana pendek, kita disambut dengan sajian teh hangat. Kita ngobrol banyak hal, tentang produk Esia hingga soal tower Polda yang akan disewa Esia. Sementara Pambayun ditemani mamanya, teriak-teriak minta roti -ngobrol dengan Ibu Kombes.

***
Saya kenal Pak Kombes pertama kali ketika survey lokasi untuk kandidat BTS di wilayah Mekarsari, tepatnya di Jalan Su-Ha (by pass) Bandung. Waktu itu, saya ijin untuk survey tower yang ada di kantor Polda Jabar. Pada mulanya, Pak Kombes keberatan, tapi karena saya terus ‘ngeyel’, akhirnya Pak Kombes mengijinkan saya untuk survey.

Sebulan yang lalu, bersama seorang AKP Polisi saya juga mengawalnya ketika melakukan survey tower-tower milik Polda Jabar yang akan disewa Esia. Dari Cigombong-Sukabumi via tol Jagorawi kita menyusuri jalanan pantura. Kita survey di tower Polsek Sukra-Patrol kemudian ke Polsek Lohbener, yang keduanya masuk dalam wilayah Indramayu. Malamnya kita transit di Cirebon, kemudian paginya mampir ke Polresta Cirebon, lalu meluncur ke Polsek Beber (Cirebon Selatan). Dari kota kecil perbatasan dengan Kuningan ini kemudian kita berpisah. Pak Kombes melanjutkan survey tower milik Polda ke daerah Tasikmalaya, sedangkan saya harus survey lokasi kandidat BTS di daerah Cilimus.

Nah, tiga minggu kemudian pada saat saya survey “road show” Jawa Barat selatan -dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasik hingga hampir ke Pangandaran, Pak Kombes menelpon memberi kabar kalau posisinya sedang berada di Jakarta. Maka, sebagai orang yang lebih muda, saya sowan ke rumah beliau yang jarak udaranya hanya 500m dari rumah saya.

***
Hirarki organisasi Polda biasanya dari urutan terbawah: Polsek, kemudian Polres (di kabupaten) atau Polresta (di Kodya), yang lebih tinggi lagi Polwil (setingkat Karisedanan) baru kemudian Polda (level propinsi). Secara administrasi, Propinsi Jawa Barat sendiri memiliki 16 wilayah kabupaten dan 5 wilayah Kotamadya. Maknanya, secara hirarki organisasi, Polda Jabar memiliki 16 kantor Polres, 5 Polresta, dan sekitar 3 kantor Polwil. Jika diasumsikan, masing-masing Polres atau Polresta terdiri dari sekitar 15 Polsek, maka dari 21 kantor polisi setingkat Daerah Tingkat II itu memiliki sekitar 315 kantor Polsek.

Nah, dari jumlah hitung-hitungan saya secara kasar tersebut di atas, menurut Pak KOmbes, Polda Jabar tiap bulannya harus membayar tagihan telepon sekitar 300 juta hingga 400-an juta ke PT Telkom. Tiap bulan!!! Bisa dibayangkan, bila Esia (secara corporate barangkali) bisa menangkap peluang tersebut, tentu ratusan juta rupiah itu akan menjadi milik Esia. Apalagi, kita sudah memiliki kerjasama dengan Polda Jabar sebelumnya. Belum lagi misalnya bila Esia mampu menggandeng Mabes Polri, tentu akan semakin menambah pemasukan yang luar biasa buat Esia.

Untuk Polda Jabar kerjasama itu mungkin hanya sebatas wilayah Bandung, Bekasi, Kerawang dan Depok, karena untuk wilayah-wilayah yang lain, interkoneksi masih menjadi masalah yang serius dan berlarut-larut. Sementara untuk wilayah Jakarta mungkin tidak ada masalah. Artinya, ini perlu kerjasama dengan Mabes Polri atau dengan Polda Metro Jaya.Apakah bisa?Mungkin perlu penjajakan. Siapa tahu bisa dan itu akan menjadi pemasukan yang luar biasa buat Esia.Selamat mencoba!

*dedicated to my sweet baby; Sekar Ayu NakMas Pambayun.

Landmark Center Tower-B Suite 801, 5 April 2006
(c) Gus John

Read original post at @GusJohn blog

Categories: Alumnus Blog Tags: