Archive

Archive for December 3rd, 2006

#090: Cinta dan Menikah Itu…

December 3rd, 2006 Administrator No comments


Cinta dan menikah itu, bukanlah pemanis di mulut dan bibir saja, tapi cinta dan menikah itu harus ditunjukkan dengan sikap dan perbuatan yang nyata.

Cinta dan menikah bukan hanya mengandalkan perasaan belaka, tapi perlu kejernihan otak untuk bisa saling mengerti dan memahaminya.

Cinta dan menikah tidak cukup hanya bermodalkan materi belaka; hidup di apartemen mewah, punya rumah megah, berfoya-foya dengan harta yang melimpah. Tapi ia membutuhkan kenyamanan dalam merasakan dan memaknainya.

#
Cinta dan menikah, bukanlah hanya diisi dengan diam-seribu bahasa, tapi perlu saling komunikasi di antara pelakunya; karena ia adalah simbol kedinamisan hidup, bukan seperti mayat tak bernyawa.
Cinta adalah bicara, bukan gagu dan membisu.

Cinta dan menikah, bukan hanya hubungan seksual saja; setiap hari, dua hari sekali, dua kali seminggu atau seminggu sekali, tapi ia juga perlu adanya hubungan perasaan yang nyata.

#
hang…

Wisma Bakrie, 6 Agustus 2004 (c) GJ

Read original post at @GusJohn blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

#089: Menulis Sederhana Saja

December 3rd, 2006 Administrator No comments

Barangkali, dari sekian penulis terkemuka di Indonesia, hanya Emha Ainun Nadjib yang tulisannya sangat sederhana. Tidak ndakik-ndakik seperti tulisan Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar-Abdalla seperti dalam bukunya, “Membakar Rumah Tuhan”. Atau, lebih banyak catatan kakinya daripada isi tulisannya seperti sang kritikus sistem demokrasi Barat, Ahmad Baso –yang mengurai tentang “kekurangan dan kelemahan” sistem demokrasi Barat bila dilihat dari sudut pandang “Kritik Nalar Melayu”.

Tulisan Cak Nun, tidak juga seperti tulisan Indonesianis asal Barat, seperti De Graaf, Prof. Nakamura, A. Hauken, De Jong, dan lainnya yang begitu rumit untuk dipahami. Cak Nun, tulisannya simple. Dia tak perlu lebih detail mengupas teorinya Samuel P. Huttington, Lance Castle, atau Gertz. Dia cukup menulis apa yang ia lihat, apa yang terjadi di masyarakat.

Cak Nun, tidak pula seperti Prof. Dr. Alwi Shihab (Menko Kesra saat ini) dalam tiga bukunya yang tebal yang membahas tentang Islam-Muhammadiyah, Islam-Tarekat dan Islam-Sufistik, dengan memiliki referensi yang luar biasa berbobot.

Cak Nun, cukup memotret kondisi sosial masyarakat yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Tentang dunia kiai dengan segala perniknya. Tentang elite politik, masalah agama, konflik budaya, persoalan ekonomi, dan sebagainya.

Judul-judul buku seperti “Kiai Sudrun Menggugat”, “Slilit Sang Kiai”, “Anggukan Ritmis Kaki Sang Kiai” (?), dan seabreg judul lainnya menjadi bukti kesederhanaan Cak Nun dalam berkarya. Kondisi sosial masyarakat dipotret Cak Nun dengan telanjang. Dengan bahasa yang lugas, sederhana, dan mudah untuk dicerna oleh kalangan awam sekalipun. Jadi sangatlah wajar, bila kemudian karya Cak Nun mendapatkan tempat di hati masyarakat luas.

**
So, menulis sederhana saja, siapa takut??

Landmark Tower B, 8th Floor; 05-04-’05 (c) Gus John

Read original post at @GusJohn blog

Categories: Alumnus Blog Tags: