Archive

Archive for November, 2006

baju anak anak jaman sekarang

November 30th, 2006 Administrator No comments

katalog baju anak anak yang saat ini sedang di jual di butik baru online ini.
daftar Harga :
Rok Next = 55.000 size av 3th-6thRok CIRCO = 50.00 size 5 thKemeja Pink Oshkosh = 55.000 Kemeja Pink Bunga Oshkosh =

Read original post at sasongko blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

Online file sharing

November 29th, 2006 Administrator No comments

A

Read original post at orakanggo blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

Nice Papers

November 29th, 2006 Administrator No comments

A

Read original post at orakanggo blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

Alhamdullilahi…

November 29th, 2006 Administrator No comments

Minggu lalu aku merasa badanku letih banget, dan aku teringat sepertinya aku terlambat datang bulan tapi masih 3 hari. Lalu aku mencoba untuk pake tes pack ..dan hasilnya Negatif. Oh ya udah,berarti aku masih bisa bebas beraktivitas. Namun 3 hari kemudian, aku tak kunjung datang bulan juga … Mmm kenapa ya.. padahal perutku udah berasa gak enak nih . Kembali aku mencoba pake tes pack …. Hahhhh…. positiff ??? Aku tak bisa percaya begitu aja. Akhirnya pagi itu kuputuskan tes kehamilan di Klinik Indosat. Dan (saat Workshop di Lt. 25) Kriiiinggg….. “Halo bu Andies, hasilnya positif bu…ibu hamil”. Alhamdulillahi…..saat itu juga aku langsung kirim sms ke suami ku “Mas, doain ya dede kita yang kedua ini sehat dan selamat sampe lahir”. Selang beberapa detik….kriiiinnnnggg …..oh suamiku ternyata, bukannya balas sms malah telpon “Sampeyan hamil lagi beneran ? (nadanya seolah tak percaya), bukan itu aja setalah telpon masih juga sms 2&nb…

Categories: Alumnus Blog Tags:

#088: Belajar Dari Masa Lalu Itu Tetap Perlu

November 28th, 2006 Administrator No comments


Belum lama berselang, seseorang terjungkal dari kursi empuknya karena melakukan sebuah kesalahan dalam membuat kebijakan yang diskriminatif (baca: timpang). Ia, tidak hanya menjadi bahan kutukan (baca: musuh) bersama, tapi juga terlempar dari kursi panasnya. Kini, kasus itu sepertinya terulang lagi.

Orang mungkin lupa, belajar dari masa lalu itu tetaplah perlu. Saat ini, orang begitu mudah melupakan masa lalu. Dipikir, apa yang terjadi pada masa lalu itu tidaklah penting. Karenanya, banyak orang beranggapan, lupakan masa lalu dan tatap masa depan saja. Sebuah anggapan yang simplifikatif, tentunya.

*
Masa lalu, bagaimanapun buruknya yang terjadi, tetaplah perlu dipelajari sebagai bahan evaluasi ke depan, agar kelak di kemudian hari kita tidak terjerumus dalam lubang kesalahan yang sama. Masa lalu, seperti yang dikatakan oleh Jose Ortega Y. Gasset, adalah masa lalu bukan karena ia terjadi pada orang lain (pada masa lalu), tetapi karena ia membentuk bagian-bagian kehidupan kita di masa kini. Kehidupan sebagai realitas merupakan kehadiran absolut: kita tidak bisa mengatakan tidak ada sesuatu apapun kecuali yang hadir pada masa kini. Karena ada masa lalu yang “aktif” pada masa kini (Ortega Y. Gasset, “Histori as a System” dalam Hans Meyerhoff [ed], The Philosophy of History in Our Time, 1959).

Masa lalu adalah bagian dari (boleh dikatakan sebagai) sejarah. Terpuruknya bangsa kita saat ini, yang sulit lepas dari krisis multidimensi (berawal dari krisis moneter), disebabkan juga karena bangsa ini tak mengenal sejarahnya secara benar. Kita menjadi bangsa yang a-historis, cenderung lupa akan karakter dan jati diri bangsa sendiri. Akibatnya, negeri Nusantara ini terus terpuruk dalam kondisi perekonomian dan politik yang memiliki daya tawar lemah di mata dunia internasional.

Masa lalu, bagaimanapun pahitnya, tetaplah memiliki hubungan dengan masa kini dan masa mendatang. Karenanya, perlu dijadikan sebagai bahan renungan untuk melakukan kajian yang mendalam.

Masa lalu, layaknya sebuah kaca spion bila kita sedang mengendarai mobil. Menatap masa depan saja tanpa menghiraukan masa lalu, sama halnya mengendari mobil tanpa melihat kaca spion. Apa yang terjadi? Di jalan raya, mobil kita akan berjalan dengan seenaknya. Belok kiri-belok kanan dengan tanpa memperhatikan pengguna jalan yang lain. Bisa jadi, mobil kita terserempet, atau malah mobil kita tertabrak dari samping kiri, kanan atau belakang.

Begitupun bila kita hanya melihat masa lalu saja. Ibaratnya, kita mengendari mobil dengan selalu melihat kaca spion tanpa sering melihat ke depan. Akibatnya, mobil yang kita kendarai bisa menabrak mobil orang, oleng, dan berakibat fatal.

Tentu saja, keduanya bukanlah sebuah pilihan. Dua-duanya sama-sama membahayakan dan merugikan. Memposisikan masa lalu secara porposional sebagai bahan kajian untuk masa mendatang, adalah hal yang harus dilakukan. Benar-salah, suka-duka, manis-pahit, baik-buruk, yang terjadi pada masa lalu, seharusnya bisa diambil hikmahnya, dijadikan sebagai bahan pelajaran untuk menyongsong hari depan yang cerah, agar tidak lagi salah.

So, bagaimanapun, belajar dari masa lalu itu tetap perlu. Barangkali, hanya (ma’af) keledai yang bisa terperosok dua kali dalam lubang kesalahan yang sama.
Bukankah demikian? Wallaahu’alam bi ash showab.

Landmark 8th Floor, 4 April 2005
(c) Gus John

Read original post at @GusJohn blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

Artikel Kracking Biromsoft Calculator v2.1 sudah publish di Jasakom!!!

November 28th, 2006 Administrator No comments

A

Read original post at orakanggo blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

Solusi Serialme elf_cm1.exe

November 28th, 2006 Administrator No comments

A

Read original post at orakanggo blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

#087: Rintihan…

November 28th, 2006 Administrator No comments

Kepalaku penat. Syaraf otakku berdenyut-denyut seolah-olah ingin ambrol saja. Inspirasi dan ide begitu banyak, tapi sulit untuk kutuangkan dalam tataran teks. Ide, inspirasi, asumsi, hipotesa, semua bercampur menjadi satu. Berbaur, seiring dengan telingaku yang mendengar berita, mataku yang melihat dan membaca, dan otakku yang kemudian melakukan analisa. Semua bergelindan menjadi satu.

***
Dadaku serasa bergetar. Denyut jantungku berdecak keras. Terlalu banyak ide menimbulkan pergulatan pikiran di dalam batin. Ide-ide itu mengisi setiap relung-relung otak, seperti halnya arus Ciliwung yang mengalir deras melewati kanal-kanal.

Telah kutemukan hipotesa tentang nasionalisme yang lebih bersifat fisik, atau aku menyebutnya sebagai “nasionalisme semu” di kalangan militer. Kebobrokan negara karena kebijakannya yang cenderung a-historis; mengangkangi hukum di bawah daulat kekuasaan. Tentang kerajaan nusantara; kaitannya dengan kehidupan sekarang. Atau tentang Banjir Kanal Timur dan kebijakan-kebijakan Pemprov DKI dengan segala kontroversinya. Dan masih banyak lagi yang lain. Duh, begitu banyaknya……

Semua masih dalam tataran konsep. Aku masih belum bisa menuangkannya dengan lancar. Otakku terasa penuh. Lidahku terasa keluh. Mulutku terasa gagu. Akhirnya semua kubiarkan mengalir begitu saja, menunggu waktunya.

Ah, andaikan saja ada laptop kecil yang selalu menemani kemanapun aku pergi, tentu inspirasi-inspirasi itu tak akan terbuang begitu saja. Tentu inspirasi-inspirasi itu tak akan terbawa lamunan, terseret dalam mimpi, lalu ia pergi. Lenyap karena begitu banyaknya.
Ah, sungguh penat otakku.

02-02-05. Landmark Center Tower B, Suite 801, Jakarta (c) GJ

Read original post at @GusJohn blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

#086: Banjir Kanal Barat

November 28th, 2006 Administrator No comments

Warnanya kecoklatan. Air itu mengalir cukup deras. Membawa segala benda yang terapung di atasnya. Onggokan sampah, kayu, papan, gabus, kain, dedaunan, dan tumpukan plastik dengan segala isinya (entah itu apa). Semua mengalir menuju ke arah barat. Kira-kira 50m per menit-nya.

Seminggu yang lalu, ketinggiannya masih di bawah batas atas pinggiran sungai. Lapak berwarna coklat, di bawah pohon berdaun lebat, di sebelah rimbunan pohon pisang, masih membuka “usaha”-nya. Para pramuria (penjaja cinta), dan langganannya masih melakukan “transaksi” di pinggiran kali itu. Hanya bertutupkan terpal berwarna coklat, beralaskan koran bekas, mereka lupakan semua norma. Lepaskan nafsu hasratnya, menikmati (konon) “indahnya” dunia dalam waktu tak lebih dari 10 menit saja!

Kini, sejak hujan deras mengguyur ibukota selama dua hari lalu, lapak coklat itu hanya menyisakan cerita. Air sungai naik, menenggelamkan dasaran lapak, merendam pepohonan di sekitarnya. Koran-koran bekas yang ikut “berjasa” dan menjadi saksi bisu atas “kenikmatan” mereka, sudah pergi entah ke mana. Terbawa arus, tentunya. Atau, barangkali nyangkut di akar-akar pohon yang kebanjiran.

Itulah Banjir Kanal Barat, sungai sodetan dari Kali Ciliwung, warisan penjajah Belanda jaman baheula. Adalah Dam Tambak sebagai awal dari arus kali yang sering membanjiri gedung LandMark itu. Oleh Belanda, dulu dam itu difungsikan untuk memotong alur Sungai Ciliwung dari Bogor menuju Ancol yang melewati istana. Begitu sampai di Manggarai (disebut Dam Tambak), arus sungai terbesar di DKI Jakarta itu kemudian dipotong, dialihkan menuju Kapuk Muara dan Pluit dengan melewati sepanjang jalan Sultan Agung (Stasiun Dukuh), jalan Galunggung, KH Margono Djojohadikoesoemo, Petamburan, Stasiun Tanah Abang. Lalu membelah jalan Kyai Caringin-Tomang Raya dan KH Hasyim Asy’ari-Kyai Tapa menuju Angke. Di sana, ia bersenggolan dengan Kali Grogol yang menuju Kali Muara. Dengan Kali Angke, Banjir Kanal Barat itu kemudian bersatu menjadi Kali Muara Angke di wilayah Kapuk Muara, dan selanjutnya bermuara di Laut Jawa.

***
Arus kali itu semakin deras. Bila ketinggian air naik 30cm hingga 50cm lagi, rel kereta api di Stasiun Dukuh Atas kemungkinan akan terendam. Banjir Kanal Barat akan menjadi momok yang begitu menakutkan bagi warga Kebon Melati, Menteng, dan daerah sekitar kali –di samping Sungai Ciliwung dari Bogor hingga Manggarai. Barangkali, ia menjadi “kali tiri” –meminjam istilah “anak tiri”- dari arus Ciliwung yang lumayan tenang menuju istana –karena ia begitu dimanjakan, karena arusnya bisa diatur setenang mungkin. Apalagi, realisasi Banjir Kanal Timur –sebagai penyeimbang arus air yang menuju ibukota– hingga kini masih juga belum ada titik terangnya. Pemprov DKI malah masih sibuk dengan proyek jalan trotoarnya yang skala prioritasnya rendah, dan tidak strategis demi kemaslahatan masyarakat luas.

Banjir lagi, banjir lagi. Sungguh memprihatinkan.

from the Landmark Center Tower B, 8th Floor Suite 801, Jakarta, 20 Jan 2005 (c) GJ

Read original post at @GusJohn blog

Categories: Alumnus Blog Tags:

#085: no identification

November 28th, 2006 Administrator No comments

Read original post at @GusJohn blog

Categories: Alumnus Blog Tags: