Archive

Archive for April, 2005

Inginnya Aku Mencintaimu, Ya Rasullullah

April 18th, 2005 Administrator No comments

Inginnya Aku Mencintaimu, Ya Rasullullah

Publikasi: 18/04/2005 08:57 WIB

eramuslim – Tak kenal maka tak sayang. Itu kata pepatah Melayu. Sedang orang Jawa bilang: Witing tresna jalaran saka kulina. Kedua ungkapan bijak itu jika diterjemahkan secara bebas bermakna hampir sama. Bahwa proses menuju cinta diawali dengan sesuatu yang bernama mengenal. Baik dalam arti kenal secara face to face, atau mengenal dalam arti sejarah hidup orang yang kita cintai.

Dulu, hampir-hampir saya tidak mengenal siapa nabi saya. Siapa Rasulullah SAW itu. Padahal saya muslim. Setiap shalat saya selalu baca shalawat. Ini memang sangat keterlaluan. Barangkali karena saya mengenal agama saya tidak begitu detail seperti kawan-kawan yang belajar di pesantren atau di sekolah khusus keagamaan.

Hingga, ketika teman saya -yang bekerja di toko kitab- itu memutar shalawat setiap saya ke sana, saya biasa-biasa saja dengan senandung itu.

Ketika tahun 90-an para mahasiswa mengejar-ngejar jurnalis dan pengarang Arswendo Atmowiloto, saya juga ‘adem ayem’ saja. Padahal alasan para mahasiswa waktu itu disebabkan pooling yang dilakukan majalah yang ia pimpin sangat menghina Muhammad SAW. Ia menempatkan Rasulullah di urutan yang kesebelas, persis satu tingkat di bawah nama Arswendo sendiri. Sedang di atas nama Rasulullah ada nama-nama Suharto, Tutut, Zainuddin MZ dan tokoh-tokoh orde baru lainnya.

Tak lama kemudian, setelah geger itu, dunia Islam juga di kejutkan oleh novel The Satanic Verses, karya Salman Rusydi. Novel yang ditulis pengarang Inggris kelahiran India itu juga dinilai sangat menghina Nabi kita. Sehingga pemimpin Republik Islam Iran waktu itu, Ayatullah Khomaini, menyediakan berjuta-juta dollar untuk siapa saja yang bisa menemukan Salman, baik dalam keadaan mati atau hidup. Pada saat itupun saya tenang-tenang saja. Tak ada reaksi apapun. Bahkan tak ada rasa apapun dalam diri saya. Seolah yang dihina adalah seorang manusia biasa.

Tapi suatu ketika, Allah memperkenankan saya bertemu seorang kawan. Kami berdiskusi soal keagamaan. Di ujung pembicaraan, ia menghina Muhammad SAW. Dada saya hampir meledak. Tangan saya hampir-hampir memukul muka kawan saya itu. Mulut saya ingin sekali berteriak. Namun, sayang saya tidak bisa atau tepatnya tidak punya argumentasi kuat untuk membela keberadaan Nabi saya. Karena pengetahuan saya tentang Muhammad begitu dangkal. Saya menyesal sekali. Sejak itulah saya mulai belajar keras untuk mengetahui dengan jelas dan benar siapa Muhammad SAW itu.

Sejak peristiwa itu saya rajin mendatangi kajian-kajian ke-Islaman di sebuah kampus kota saya. Sejak itu saya setiap pagi buta berjalan hampir tiga km untuk ikut mengaji di sebuah pesantren sebelah desa saya. Sejak itulah saya rajin silaturrahim kepada kawan-kawan saya yang aktif di kegiatan Islam kampus. Walau saya sendiri hanya sebagai pedagang kaki lima dan bukan mahasiswa.

Alhamdulillah, dari sanalah saya sedikit tahu sosok agung itu, yang Allah dan para malaikatNya saja bershalawat pada beliau. Figur seorang pemimpin yang ketika anaknya minta dicarikan pembantu rumah tangga, justru sang anak diberikan amalan agar selalu bertasbih, bertahmid dan bertakbir saja. Tokoh sederhana yang ketika ditawari emas sebesar gunung Uhud, justru memilih keluarga dan akhirat saja. Pemimpin para da’i yang ketika dilempari batu di Thaif membalasnya dengan melempar senyum dan mendoakan kebaikan. Sang ‘Abid, yang dijamin masuk surga tanpa hisab, tapi masih berdiri kokoh di waktu malam untuk beribadah sampai kakinya bengkak-bengkak. Orang mulia, yang ketika mendekati ajal, yang beliau sebut-sebut bukanlah istri, anak atau keluarga lainnya, tapi justru umatnyalah yang beliau sebut-sebut.

Membaca itu semua, saya jadi teringat perkataan imam masjid di kampung saya dulu ketika mau mengajarkan sejarah nabi. Ia berkata: Mari kita belajar mengenal Nabi kita. Belajar megenal bagaimana tingkah laku pemimpin kita. Dengan mengenal itu semua, kita akan menjadi cinta pada beliau. Dan dengan demikan akan mudah untuk melaksanakan apa yang beliau contohkan.

Kalimat itu terngiang-ngiang kembali di telinga saya.

Cinta. Lagi-lagi karena alasan cinta mereka dengan ringan mampu berbuat sesuatu walaupun resikonya sangat tinggi. Karena cinta, mereka rela mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawa, demi sang kekasih yang dicintainya. Dan saya yakin cinta mereka-mereka yang telah mengenal Nabi itu bukanalah cinta buta. Tapi cinta yang dilandasi sesuatu keyakinan murni yang sangat kuat.

Kembali saya meraba diri sendiri. Setelah agak sedikit mengenal, apakah saya lantas dengan mudah mencintai sang Nabi?

Ya Allah, ternyata mencintai Nabi tak semudah mencintai orang tua, keluarga, atau tak semudah mencintai pasangan kita. Mencintai Nabi ternyata butuh konsekwensi diri yang luar biasa. Bahkan nabi sendiri, ketika ada seorang perempuan datang pada beliau, lantas perempuan itu mengungkapkan keinginannya untuk mencintai nabi setulus-tulusnya, Nabi justru balik bertanya. “Apakah sudah kau pikirkan dulu masak-masak? Sebab mencintai saya itu akan datang banyak cobaan. Dan datangnya cobaan itu seperti datangnya air bah,” kata Nabi.

Berarti mencintai nabi tidaklah semudah yang diomongkan lidah. Dan saya sendiri, merasa masih sangat tertatih-tatih dalam menuju derajat cinta Rasul. Sebab mencintai Rasul itu berarti mencintai Allah juga. Dan seandainya boleh saya mengibaratkan, Allah dan Rasul adalah dua sisi mata uang. Yang satupun tak boleh dihilangkan.

Ya Rabbul Jalil, berilah saya kekuatan untuk mencintai Rasul dan mencintaiMu. Agar saya bisa dengan mudah melaksanakan apa yang Kau perintahkan dan menjauhi apa yang Kau larang.

Dan saat-saat ini saya seringkali bertanya pada diri sendiri, sudah sejauh manakah saya mencintai Rasulullah SAW?

Wallahu a’lam.

***

Sus Woyo

Brunei, April 2005

++ Teriam kasih, artikel ini telah mengingatkan saya atas kemalasan saya untuk membaca Shiroh Nabawiyah”
Tuk temanku, sahabatku, yang selalu mengingatkan saya atas keagungan Shiroh Nabawiyah, teriam aksih, jangan bosan ya mengingatkanku++

Read original post at http://klenthing.blogspot.com/2005/04/inginnya-aku-mencintaimu-ya.html

Categories: Alumnus Blog Tags:

Keteguhan Hatimu… Pak Sakir

April 18th, 2005 Administrator No comments

Ceria, lugu, lugas, percaya diri, dan tawakkal ..
Itulah yang saya dapatkan seketika bertemu dan berbincang dengan Pak Sakir.

Pak Sakir, adalah seorang sopir Taksi Blue Bird, SE 1456.
Beliau lah yang mengantar saya dengan suami sepulang dari Cilandak.

Pertemuan kami tidak sengaja, hanya Allah swt yang mempertemukan kami :)
Pagi sampai siang, saya dengan suami menemani adek yang lagi mengikuti Lomba Bahasa Inggris di Universitas Indonesia.

Malam, bersama teamnya dari Malang, jalan2 di sekitar CITOS (Cilandak Town Square).
Saya dan suami hanya mengantar sampai pintu masuknya.
Malas sebetulnya jalan2 ke Mall, tapi kemalasan ini yang memabwa kami bertemu dengan beliau.
“Pak, antar kami ke BLOK-M, tapi kalau annti lancar dilanjutkan ke Setia Budi”, demikian pinta saya kepada Pak Sakir.
“Kemana saja, bsia Bu”, jawab beliau.

Sepanjang perjalanan, kami mencoba berbicara dengan beliau, tanpa menganggu tugas beliau sebagai sopir, yang harus tetap waspada dalam mengendalikan mobilnya.

Beliau bercerita bagaimana pengaruh kenaikan argo taksi terhadap pendapatan perhari, dan juga bagaimana beliau menyikapinya.
Di Blue Bird, sistem pengajiannya adalah komisi. Jika per hari bisa menyetor di atas 300rebu, maka komisi 20% dari yang disetor.
Jika per bulan terkumpul 6,8 juta, maka akan dapat komisi 120rebu.

Saya dengan suami bertanya dan mencoba berhitung, jika per hari mengumpulkan uang 370rebu, untuk bensin 70 rebu, sisa yang disetor adalah 300rb, berarti per hari seorang sopir dapat 30rebu sebagai komisinya.
Dari 30rebu untuk makan 5rebu, untuk angkot 5rebu. Disetor ke istri 20rebu.
Bahkan kadang2 sehari penuh, tidak ada uang yang disetor ke istri, karena terlalu sedikitnya pendapatan per hari.

Tak henti2nya saya dengan suami terus berbicara dengan Pak Sakir, bagaiamana beliau menyikapi kondisi ini.
Beliau kadang tidur di Mess Blue Bird, untuk menghemat biaya ongkos pulang ke Cibubur, rumah kontrakan beliau.
Terpikir juga oleh Pak Sakir, kasihan anak istri jika tidak pulang, namun apa daya.

Beliau berkata,”Laba-laba saja bisa hidup meskipun tidak dikasih makan, yang penting kita bekerja jujur, halal, masalah rejeki sudah ada yang mengatur, lebih baik hidup miskin tapi berkah, karen kita tidak tahu kapan kita akan mati”

Pernak sautu ketika beliau ditawari untuk bekerja sebagai driver di Kedutaan Perancis. NAmun beliau menolak karena gaji yang tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari2, Namun beliau yakin mencari pekerjaan itu gampang, selama kita mau berusaha.

Sontak saya dan suami kaget dan kagum dengan pendapat beliau.
Bagaikan sambaran petir tatkla kata2 itu muncul dari bibir Pak Sakir.

“Ya Allah, terima kasih karena telah mempertemukan kami dengan Pak Sakir, semoga dengan pertemuan ini menambah rasa syukur kami atas Nikmat-Mu.
Maafkan jika kami selama ini kurang bersyukur atas nikmat-MU. Dan bantulah kami ya Allah untuk selalu berbuat baik kepada sesama.
Ya Allah, bukan tidak dengan maksud, Engkau mempertemukan kami dengan Pak Sakir, dibalik itu hikmah yang agung yang kami dapatkan atas pertemuan ini.

Terima kasih ya Allah, senantiasa berikan ketetapan hari Pak Sakir untuk selalu di jalan-MU, dan berilah kemudahan dalam mencari rejeki Amiin.” , lantunan doa khusyuk kami untuk Pak Sakir.

Semoag akan terdapat banyak lagi PAk Sakir PAk Sakir yang lain di bumi ALlah ini amiin

wassalam
17 April 2005
sepualgn dari UI bersama sumaiku tercinta :)

Read original post at http://klenthing.blogspot.com/2005/04/keteguhan-hatimu-pak-sakir.html

Categories: Alumnus Blog Tags:

Tsunami Aceh

April 13th, 2005 Administrator No comments

Terdiam, tanda tanya dan pasrah …

Sikap itulah yang terjadi saat suami saya di Banda Aceh, SMS minggu pagi jam 08.00 tanggal 26 desember 2004.
“Telah terjadi gempa dahsyat di BAnda Aceh, Panti Pirak roboh”, begitu isi SMS-nya.

Tak terbayang dalam pikiran saya, seberapa dahsyatnya, karena pada saat itu saya harus mendampingi calon pegawai Indosat dalam acara Study Islam Intensive di Mega Mendung,Puncak, Jawa Barat.
Saya tahu betul Panti Pirak, salah satu mall terbesar di kota Banda Aceh.

Jam 12.00 acara baru bubar, dan balik ke Jakarta. Setiba di Jakarta saya ikuti berita di TV, ada susulan Tsunami hiks.
Dan sejak pagi itu pula kontak dengan suami, baik melalui telepon selular atau telepon PSTN putus.

Orang tua, mertua, saudara, pada bertanya tentang keadaan Mas Ari (suami saya).
Saya hanya menjawab, mohon daonya moga mas Ari selamat dalam lindungan Allah swt.

Saya menunggu telpon Mas Ari sampai dini hari namun tak kunjung datang. Pasrah, saya tunggu sampai keesokan harinya, dan belum ada, akhirnya Senin 27 Desember 2004 Dini hari, mas ari baru nelpon walau tidak sampai 1 menit, mengabarkan bahwa dalam keadaan selamat.

Saya masih berpikir kembali, selamatnay dari reruntuhan, hanyut karen tsunami atau apa..??
Naum saya akhirnay bisa pasrah kepada Allah swt, bukti bahwa Allah swt masih memberi kesempatan berbuat baik kepada suami, dan begitu juag mas Ari, masih diberi kesempatan untuk berbuat baiklagi.

Terima kasih ya Allah atas segala hikmah di balik peristiwa ini.
Naum karena kejadian gempa dan Tsunami aceh ini pula, akhirnay rumah tangga kami disatukan dalam satu atap. (6 bulan yang lalu suami ke Jakarta tiap bulan sekali)

Mas Ari dipindah tugaskan ke Jakarta alhmadulillah. Semoga amanah dengan pekerjaan saat ini dan semoga lancar Amiin.

-to my beloved husband-

Read original post at http://klenthing.blogspot.com/2005/04/tsunami-aceh.html

Categories: Alumnus Blog Tags:

Busway oh Busway

April 13th, 2005 Administrator No comments

Telat :)
Pagi, bersama suami jalan kaki, pergi ke kantor bareng
Suami kerja ke arah Gatot Subroto, saya ke arah Thamrin.
Suami naik 604, saya naik busway …

Sudah 2 kali ini saya mengalami keterlambatan Busway, biasanya tiap 5 menit melintas di setiap halte, namun 2 kali ini saya mengalami sampai 10 menit baru nongol hiks.

Dalam hati akhirnya ‘NGERUNDEL’, tapi saya pikir2 kenapa harus ngerundel? toh ke kantor juga nggak telat, tapiiii MUEPEEETTTTTT BANGET gitu lhooo :)

Maaf ya Allah atas ketidaksabaran hambaMu, atas ke-NGRUNDELAN hamba.
dan buat busway, makasih yaa telah mengantar saya tiap hari ke kantor, terima kasih banyak

Tuk suamiku, makasih telah menemai jalan kaki menuju halte busway

Read original post at http://klenthing.blogspot.com/2005/04/busway-oh-busway.html

Categories: Alumnus Blog Tags:

First Contact

April 2nd, 2005 Administrator No comments

Waaa jadi juga blognya….hahaha…. :D

Read original post at http://klenthing.blogspot.com/2005/04/first-contact.html

Categories: Alumnus Blog Tags: